Tampilkan postingan dengan label Islamophobia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamophobia. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juli 2013

Hantam Media Islam, Munarman: Eva Sundari Agen Asing

Memanfaatkan peristiwa bom panci di Mapolsek Rajapolah, Tasikmalaya, Jawa Barat beberapa hari lalu, tiba-tiba politisi liberal Eva Kusuma Sundari meminta Kementerian Informasi dan Komunikasi (Kemenkominfo) untuk menutup sejumlah situs yang dinilainya mengajarkan kekerasan dan radikalisme. Bukan kali ini saja anggota Komisi III DPR ini mengeluarkan pernyataan menyakitkan kepada umat Islam. Komentar-komentarnya mengenai aksi FPI misalnya, selalu bernada negatif.
Menanggapi ocehan Eva Sundari, Ketua DPP Front Pembela Islam (FPI) H. Munarman, SH mengingatkan umat Islam supaya mewaspadai politisi kelahiran Nganjuk, Jawa Timur ini.
“Hati-hati dengan Eva Sundari itu. Suaminya Dubes Timor Leste di Malaysia. Artinya dia dibawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya sebagai agen asing tidak terdeteksi. Dia dulunya bekerja sebagai agen asing yang menggunakan cover funding agency, Asia Foundation,” ungkap Munarman seperti dilansir Suara Islam Online, Ahad (21/7/2013).
Dengan status yang demikian, kata Munarman, tak heran bila misi Eva adalah menghancurkan fondasi Islam yang menjadi pedoman banyak kalangan muda. “Saat ini dakwah melalui media online menjadi salah satu agenda yang harus dihancurkan berdasarkan agenda global zionis internasional,” lanjutnya.
Munarman lantas bercerita mengenai ketidak konsistenan Eva. Eva yang biasanya suka berteriak bila terjadi peristiwa yang dianggap menzalimi kaum minoritas, tidak berani berkomentar jika yang menjadi korban adalah minoritas Islam. Padahal dia sendiri tertulis dalam identitasnya beragama Islam.
“Dia itu tidak pernah mau komentar terhadap masjid yang dibakar orang kafir di Porsea, padahal dia tau persis. Juga tidak pernah komentar terhadap pelanggaran HAM berat oleh Densus 88. Juga tak pernah komentar terhadap tindakan main hakim sendiri pecalang pecalang di Bali yang menutup seluruh tempat hiburan dan fasilitas publik lainnya,” Munarman menceritakan.
“Karena memang dia ditugaskan oleh pihak asing khusus untuk merecoki umat Islam,” tandasnya.
Sebelumnya, seperti dikutip Tribunnews.com, Sabtu (20/7/2013), Eva dengan lantang meminta Kemenkominfo untuk menutup sejumlah situs.
“PDIP sangat berharap agar Menkominfo menutup situs-situs yang sudah meresahkan masyarakat dan aktivis-aktivis anti-kekerasan karena mengajarkan radikalisme, seperti Al Busroh.com, millahibrahim.wordpress.com, Millahibrahim.com, Arrahmah.com, VOI-voice of islam, jihat.com, dan tauhid wal jihat, yang bisa mendorong apa yang disebut self- radicalism (radikalisasi sukarela), dan mengantar seseorang mengambil tindakan radikal termasuk membuat bom,” papar Eva. (kiblat.net)
Read more

Kamis, 11 Juli 2013

Ulah Kaum Liberal dari Dulu Hingga Kini




Dalam sejarah Islam yang pertama kali menawarkan konsep Liberal terkait pencampur-adukkan ibadah antar agama adalah Abu Jahal cs, tatkala mendatangi Rasulullah SAW dan menawarkan perdamaian antar kaum muslimin dan kaum musyrikin dalam bentuk beribadah secara bergilir kepada Allah SWT dan berhala sesembahan kaum musyrikin, lalu turun Surat Al-Kafirun sebagai jawabannya.

Abu Jahal cs selalu menghina Nabi SAW, melecehkan agama dan memusuhi umat Islam dengan berbagai macam cara. Abu Jahal cs inilah yang pernah menantang  Abu Bakar RA untuk melogikakan dan merasionalisasikan peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dengan “Akal”. Mereka berkata kepada Abu Bakar RA : “Hai Abu Bakar, masihkan kau percaya dengan kebohongan Muhammad ? Akal manusia mana yang bisa menerima cerita perjalanan dari Mekkah ke Syam hanya dalam waktu sebagian malam. Padahal kita sama tahu, perjalanan sejauh itu dengan menunggang unta saja menghabiskan waktu tidak kurang dari sebulan perjalanan ?!”

Abu Bakar RA pun menjawab dengan tegas dan lantang tanpa sedikit pun keraguan : “Andaikata Muhammad bercerita tentang peristiwa yang lebih dahsyat daripada Isra Mi’raj, niscaya pasti aku akan percaya dan membenarkannya !” Itulah sebabnya Abu Bakar RA dijuluki “Ash-Shiddiq” yang artinya orang yang jujur dengan imannya, yang membenarkan Nabi SAW tatkala orang lain mendustakannya, yang mempercayai Nabi SAW tatkala orang lain mencemoohkannya. Jawaban Ash-Shiddiq RA adalah jawaban tulus dan ikhlash yang lahir dari iman yang kuat, bukan dari logika yang hampa. Ash-Shiddiq RA telah memberi pelajaran kepada umat Islam tentang urgensi dan importensi keimanan. Iman mampu menjawab sesuatu yang belum mampu dijawab oleh akal. Iman sanggup menerima sesuatu yang akal masih sulit mencerna. Iman bisa melakukan keajaiban yang tak bisa dikakukan oleh akal.

Dengan demikian, akar pemikiran Liberal dalam sejarah Islam sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW, yaitu pola pikir yang telah dipertontonkan secara vulgar dan demonstratif oleh Abu Jahal cs. Pola pikir Liberal terus berkembang di kalangan orang kafir dan munafiq, bahkan terus berusaha mempengaruhi kaum muslimin, sehingga dari dulu hingga kini banyak generasi muda muslim tanpa mereka sadari mulai masuk perangkapan pemikiran sesat Liberal. Sebagaimana Abu Jahal cs, kaum Liberal pun selalu menghina Nabi SAW, melecehkan agama dan memusuhi umat Islam dengan berbagai macam cara.

Lihat saja kini kaum Liberal senang sekali menghina gerakan Islam dengan berbagai istilah melecehkan seperti sebutan preman berjubah, radikalis, ekstrimis, anarkis, teroris, dan sebagainya. Dan kaum Liberal sering “mengarab-arabkan” ajaran Islam, bahkan menyerang ajaran Islam. Sebuah buku karangan Arab Liberal, Muhammad Syahrur, yang berjudul “Dirasat Islamiyyah Mu’ashirah fi Ad-Daulah wa Al-Mujtama’, yang artinya “Studi Islam Modern tentang Negara dan Masyarakat” diterjemahkan oleh kalangan Liberal dengan judul “Tirani Islam” dengan gambar cover “Bintang Bulan Berduri” yang diterbitkan oleh LKiS. Islam disebut “Tirani” dan Bintang Bulan yang biasa digunakan sebagai simbol Islam diberikan “Duri”. Begitukah sikap santun Liberal ?! Begitukan cara Liberal menghargai lawan pendapatnya ?!”  

“Soal Liberal anti kekerasan, hanya omong kosong. Faktanya, pemikiran dan ucapan mereka sangat anarkis, penuh caci-maki dan penghinaan, bahkan yang dilecehkan bukan saja lawan pendapatnya, tapi mereka arahkan penistaan langsung kepada Allah, Nabi, Kitab Suci, Agama dan Ulama. Ada pun anarkis tindakan, fakta bicara bahwa mereka sering mengadu-domba ormas Islam dan Kelompok Nasionalis. Selain itu, saat sidang berlangsung di PN Jakarta Pusat tahun 2008 terkait Insiden Monas, kalangan Liberal mengerahkan “preman bayaran” yang diberikan baju bertuliskan “Banser” untuk melakukan serangan dengan senjata tajam, setelah diselidiki ternyata mereka “Banser Palsu”. Bahkan di berbagai daerah gerombolan Liberal juga mengerahkan “preman bayaran” untuk menyerang sejumlah kantor cabang ormas-ormas Islam, bahkan rumah tinggal para aktivis Islam yang pro RUU Pornografi ketika itu.”

Lucu sekali jika ada orang ”Liberal” mengaku sebagai ”Muslim Liberal” atau ”Islam Liberal”, karena Liberal bukan Islam dan Islam bukan Liberal.  Juga sangat lucu jika orang Liberal mengaku sebagai kelompok yang sangat menghormati pendapat orang lain. Padahal, Liberal itu fundamentalis, ekstrimis dan anarkis dalam pemikiran dan berpendapat, sehingga mereka tidak pernah bisa menghormati pendapat kelompok lain yang berbeda dengan mereka. Itulah sebabnya, Kaum Liberal tidak pernah ragu untuk selalu mencaci-maki Gerakan Islam dan memfitnahnya sebagai  anarkis, radikalis, ekstrimis dan teroris. Dan  tanpa punya rasa malu selalu berusaha untuk membubarkan Ormas Islam  dengan berbagai macam cara. 

 Sumber : Buku Hancurkan Liberalisme Tegakkan Syariat Islam oleh Habib Rizieq 

Read more

Islam Phobia

“Muslim fundamentalism is at least as dangerous as Communism once was. Please do not underestimate this risk…at the conclusion of this age it is a serious threat, because it represents terrorism, religious fanaticism and exploitation of social and economic justice.” [A TV interview reported by Inter Press Service 18 February 1995]
Fundamentalisme Islam setidaknya sama berbahayanya dengan komunisme tempo dulu. Mohon jangan meremehkan resiko ini… Sebagai kesimpulan pada masa ini, fundamentalisme Islam adalah sebuah ancaman serius, karena merepresentasikan terorisme, fanatik keberagamaan, dan pengeksploitasian keadilan sosial dan ekonomi. (Sebuah wawancara TV yang direportasekan oleh Inter Press Service, 18 Pebruari 1995)
Itu adalah ucapan Willi Claes, mantan Sekjen Nato yang merefleksikan kekhawatiran (baca: ketakutan) Barat terhadap Islam dan kam Muslim. Jauh-jauh hari sebelum peristiwa 911 (peruntuhan gedung WTC pada 2001) Willi Claes telah menyamakan kaum Muslim yang berpegang teguh terhadap agamanya sebagai teroris, dan mewanti-wanti bahwa kaum Muslim fundamentalis –demikian dia menyebut kaum Muslim yang teguh kepada ajaran Islam- jauh lebih berbahaya dari pada pengikut komunis, karenanya jangan dianggap remeh!
Ketakutan terhadap Islam sudah ada sejak perang Salib meletus. Disusul dengan era penjajahan Barat atas negeri-negeri Muslim, hingga berakhirnya masa ke-Khilafahan Islam yang terakhir (tahun 1924 M). Selama kurun waktu itu pula terbentuk Islam phobi yang sengaja diciptakan Barat untuk mendiskreditkan kaum Muslim, mengisolir mereka, dan membuangnya sebagai sampah peradaban.
Jika dahulu kaum Muslim mereka cap dengan stempel terbelakang, barbar, tidak berpikiran maju/produktif, jorok, dan lain-lain; maka sekarang mereka memberi kaum Muslim –yang berpegang teguh dengan ajaran Islam- dengan label teroris, ekstremis, fundamentalis, dan sejenisnya.
Islamophobia adalah hasil samping dari benturan peradaban, antara peradaban Islam dan peradaban Barat. Barat menggunakan segala cara untuk memojokkan Islam dan kaum Muslim.
Peradaban Barat tidak akan mampu bertahan hidup di atas kakinya sendiri, kecuali dengan melakukan invasi, kolonisasi, eksploitasi, imperialisasi. Hanya dengan itu Barat bisa mereguk energi yang dimiliki bangsa-bangsa lain yang kaya, tanpa harus mengeluarkan ‘keringat’.
Peradaban Barat tidak mampu mencukupi kebutuhan akal dan hawa nafsu masyarakatnya yang hedonis-materialistis, sehingga imperialisme/penjajahan menjadi sesuatu yang niscaya bagi mereka, bahkan ciri khas dari ideologi kapitalisme. Peradaban Barat bagaikan benalu bagi umat manusia. Ia tidak bisa hidup, kecuali dengan mengganggu dan menggerogoti peradaban lain.
Karenanya tidak mengherankan, jika kita menyaksikan keberadaan peradaban Barat sepenjang sejarah umat manusia, hanya menyisakan penderitaan, kesengsaraan, kezhaliman. Amerika Serikat saja, selama periode seratus tahun terakhir, telah melakukan invasi lebih dari 100 kali ke negara-negara lain (lihat: Amerika, teroris berwajah manis; jurnal al-waie, no.7, Maret 2001). Tidak salah jika AS dan sekutunya dikategorikan sebagai trouble maker (si pembuat keonaran), karena dengan cara begitulah dia hidup.
Sementara, kaum Muslim sebagai sebuah peradaban juga berhak untuk hidup. Oleh karenanya wajar jika mereka berpegang teguh, mentaati ajaran agamanya, dan menjalankan seluruh perintah Allah Swt dan Rasul-Nya. Apabila negeri-negeri mereka diancam, diserang, dieksploitasi, dijajah; rakyat mereka disakiti, diusir, dianiaya, dibantai; rumah dan harta mereka hancur karena pendudukan Barat dan sekutunya; maka wajar pula jika mereka melawan, membalas dan mengusir musuh dari negeri-negeri mereka.
Hal itu dilakukan oleh kaum Muslim terhadap peradaban Barat yang menodai kesucian negeri-negeri kaum Muslim, mencoreng kehormatan Islam, dan secara terang-terangan menghina Islam dan kaum Muslim?
Sungguh sangat tragis, pada masa kita hidup sekarang ini, orang-orang yang memegang teguh agamanya, mengejar keridhaan Allah Swt dan konsisten mengikuti petunjuk dan manhaj Nabi saw, dihina dan dilecehkan dengan kata-kata menjijikkan, yaitu ‘Teroris’!
Sebaliknya, teroris sejati dielu-elukan bak pahlawan pembela kebenaran.
Begitulah yang terjadi saat ini, propaganda ‘war on terror’ yang diserukan AS beserta sekutunya, hakekatnya adalah perang melawan Islam dan kaum Muslim. Itu merupakan bagian dari sejarah panjang perang peradaban Barat terhadap peradaban Islam. Dengan propaganda tersebut AS berhasil ‘menyihir seluruh dunia’ guna mengikuti jejaknya, menciptakan ketakutan terhadap Islam; Islamophobia.
Propaganda perang melawan teror telah melupakan begitu saja invasi AS ke Afghanistan dan Irak. Seakan-akan pendudukan AS itu adalah sesuatu yang ringan. Barat sangat paham bahwa musuh terberatnya hanyalah Islam dan kaum Muslim. Untuk menghancurkannya Barat sendiri tidak akan mampu.
Oleh karena itu, Barat merangkul seluruh dunia, termasuk para penguasa Muslim yang menjadi kaki tangannya, kaum intelektual Muslim yang dibina oleh mereka, para ulama yang cinta kepada dunia dan tidak takut kepada Allah, dan mayoritas masyarakat manusia yang kondisinya bodoh sehingga mudah dibodohi; semuanya digalang untuk memojokkan Islam, mengasingkan orang-orang Islam yang memegang teguh ajarannya, dan menyingkirkan kaum Muslim yang melawannya.
Akibatnya, ajaran Islam menjadi sesuatu yang asing. Dan orang-orang yang mentaati Allah Swt dan mengikuti Sunnah Nabi-Nya bagaikan orang asing di hadapan masyarakatnya. Benarlah sabda Rasulullah saw:
Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti semula. Maka berbahagialah orang-orang yang terasing. (HR. Muslim)

Read more

Rating dan Uang Lebih Laku Dibanding Kebenaran


Fungsi media massa seharusnya memberitakan berita-berita  kebenaran terbaru yang disuguhkan kepada penonton. Disisi lain dalam meningkatkan kompetensi dan persaingan dalam media pemberitaan dibutuhkan pemasukan untuk media massa. Sebagaimana di ketahui, iklan adalah sumber pemasukan terbesar dalam bisnis di dunia media massa.
Kembali ke masa Kemenangan-kemenangan dan kejayaan perjuangan Nabi Muhammad s.a.w. menegakkan masyarakat Islam di Madinah, adalah tegak di atas kesetia­an sahabat-sahabatnya dan kebencian musuh-musuhnya. Orang besar selalu diuji oleh pujaan dan celaan. Di samping orang-orang sebagai Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khathab, Usman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib yang menyediakan jiwa-raganya dan harta benda biar sama hilang sama timbul dengan Nabi, ada juga musuh-musuh besar yang dalam memusuhi itu pun mereka “besar” pula.
Musuh demikian dihadapi Nabi ketika beliau di Makkah, di antaranya ialah Abu Jahal yang terkenal menentang Nabi terang-terangan secara jantan. Tetapi setelah Nabi s.a.w. pindah ke Madinah, dan masyarakat Islam mulai berdiri, beliau menghadapi musuh yang bukan satria, orang ber­jiwa kecil yang hanya berani membuat fitnah, menghasut, menggunjing, ber­bicara di belakang, sedang pada lahirnya dia bermulut manis menyatakan setuju. Dan apabila ada jalan buat memasukkan jarum dengki dan bencinya, dimulainyalah memainkan jarum itu, walaupun di balik pembelakangan. Itulah yang dinamai golongan munafiqin yang dipimpin oleh seorang yang mengaku kawan padahal lawan, yaitu Abdullah bin Ubay.
Kalau ada musuh hendak melawan Islam, dibantunya dari belakang secara diam-diam tetapi kalau musuh itu sudah dapat dikalahkan oleh Nabi, dia pun mencuci tangan dan musuh yang kalah itu ditinggalkannya, dan dia pergi mengambil muka kepada Muslimin yang menang. Kalau dia menampak agak sedikit pintu hasutan, untuk memecahkan front Muslimin di antara Muhajirin dengan Anshar, dilaluinyalah lobang yang kecil itu, sehingga kalau kurang hati-hati pimpinan, pesatuan Islam bisa pecah berantakan. Tetapi Nabi s.a.w. dan sahabat-sahabatnya tetap waspada, sehingga segala usahanya tetap tidak pemah berhasil.
 Kita mungkin bisa merasakan betapa kecewa dan marahnya umat Islam ketika mengetahui berita saudaranya di Rohingya, Suriah,  Palestina dan umat islam diseluruh dunia mendapati berita yang tidak sesuai fakta keadaan mereka sebenarnya. Contoh yang terjadi pada kasus Sampang yang terlibat langsung konflik dengan aliran sesat Syiah ketika itu, melihat pemberitaan-pemberitaan media massa pada saat itu ternyata tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Para wartawan media massa datang bertanya tentang kronologis konflik sampang tersebut, namun kemudian yang  diberitakan justru sebaliknya menyimpang jauh dari arah pemberitaan yang seharusnya. Bagaimana mungkin bisa terjadi, konflik yang jelas-jelas dipicu dari ulah sekte Syiah sesat, direkayasa jauh melenceng merujuk ke topik asmara sepasang kekasih, Wanita dan cinta segitiga.
Memang saat ini berita-berita yang memuat kebenaran tidak lebih laku daripada berita-berita lainnya yang lebih bisa mendatangkan rating yang tinggi dan uang besar. Memang sudah dibuktikan bahwa tema-tema asmara, rebutan wanita, perselingkuhan atau cinta segitiga memang lebih lebih diminati oleh kebanyakan orang. Itu sebabbya infotainment dapat tumbuh subuh di negeri ini mengalahkan acara-acara pengajian. Meski telah difatwa haram oleh para ulama pun tidak mengurangi signifikansi jumlah penonton infotainment.
 Media massa itu tidak terlalu ambil pusing apakah syiah itu sesat atau tidak. Mereka juga tidak terlalu peduli mana yang benar diantara kedua pihak konflik tersebut, apakah sunni atau syiah. Mereka juga tidak tertarik untuk mencari tahu kebenaran yang dipegang orang-orang macam Abu Bakar Baasyir atau Imam Samudra dkk, apakah mereka benar-benar bersalah atau tidak. Yang mereka paham adalah mereka adalah objek berita. Yang bisa mendatangkan uang dan rating yang tinggi. Semakin krusial permasalahan itu diangkat maka semakin banyak diminati para pemirsa. Mereka tidak peduli, semakin menyebalkan media mencitrakan orang-orang shaleh itu, maka semakin banyak orang yang benci kepada mereka tanpa tahu dimana letak kesalahan dan dimana letak kebenaran yang sebenarnya terjadi. Nggak peduli baik buruk yang penting rating naik!
Bagi kita di zaman moden hal ini pun menjadi perbandingan pula. Kita menegakkan demokrasi , kebebasan menyatakan perasaan dan fikiran. Tetapi demokrasi yang menjamin keselamatan dunia adalah demokrasi yang timbul dari budi luhur. Hasad, dengki, benci dan dendam yang ada dalam batin yang kotor, bisa juga memakai alasan “demokrasi” untuk melepaskan hawanafsu bencinya menyinggung kehormatan seseorang. Maka penguasa pun berhak membungkam kebenaran dengan hawa nafsunya karena ada kepentingan pribadinya.
“Seketika kamu sambut berita itu dengan lidahmu, dan kamu katakan dengan mulutmu, perkara yang sebenarnya tidak kamu ketahui kedudukannya, dan kamu sangka bahwa itu perkara kecil, padahal di sisi Allah dia perkara besar.” (An-Nur : ayat 15).
Orang yang beriman, lidahnya berbicara dengan penuh tanggungjawab. Dia mempunyai kepercayaan bahwa pendengaran, penglihatan dan hati sanu­bari, semuanya akan bertanggungjawab di hadapan Tuhan. Semua perbuatan dan perkataannya tercatat oleh kedua Malaikat, Raqib dan ‘Atid.
 “Mengapa ketika kamu menerima berita itu tidak kamu katakan saja: “Tiada sepatutnya bagi kami akan turut memperkatakan hal itu. Amat Suci Engkau Tuhan, ini adalah suatu kebohongan besar.” (An-Nur : ayat 16)
 Contoh kasus pada pekan lalu Banyak stasiun TV swasta di Indonesia yang memfitnah organisasi islam tiba-tiba membuat liputan khusus tentang Kepedulian Palestina. Stasiun TV itu menceritakan secara detail sekali bagaimana kondisi awal Palestina dari awal penjajahan Israel hingga saat ini. Kondisi Ini sangat merusak cara pandang para penonton untuk menentukan sikap yang benar. Sehingga antara Haq dan Batil bercampur baur. Sangat dirasakan sekali keberpihakan stasiun TV swasta itu kepada perjuangan Palestina. TV yang sebelumnya memfitnah dakwah Islam di Masjid, organisasi islam sebagai tumbuhnya terorisme, namun saat ini mereka memberitakan Palestina sedemikian baiknya.
Yang mereka lakukan itu semuanya demi rating! Mereka menayangkan liputan khusus tentang Palestina karena disaat yang sama ada puluhan bahkan ratusan ribu orang di negeri ini sedang membicarakan isu tentang Palestina. Semua orang bersimpati. Maka menayangkan isu Palestina ‘sebaik’ itu bukan karena ingin memberitakan kebenaran (Al-haq). Tapi bisa dipastikan sebabnya karena ratingnya sedang tinggi!
“Tuhan memberi pengajaran bagi kamu, supaya jangan mengulangi lagi perbuatan seperti itu buat selama-selamanya. Kalau betul kamu mengakui ber­iman. ” (ayat 17).
 Cukuplah hal yang sekali ini buat menjadi pengalaman bagi kita. Jangan­lah terulang lagi yang kedua kali dan yang seterusnya. Karena perbuatan begini tidak mungkin timbul dari orang yang beriman, kalau tidak karena bodoh dan tololnya. Orang yang beriman tidaklah akan termakan oleh propokasi. Penyiar kabar nista tidak mungkin orang yang beriman. Penyiar kabar dusta sudah pasti orang yang munafik atau busuk hati, karena maksud yang tertentu, dan yang sanggup menerimanya hanyalah orang yang goyang imannya.
Kita senantiasa wajib waspada, karena kesatuan imanmu tidak mungkin dirusakkan dari luar, tetapi hendak diruntuhkan dari dalam. Kaum munafikin tidak senang hati melihat gemilang jaya Nabi Muhammad dengan perjuangannya. Segala persekongkolan diciptakan untuk menentang Nabi telah mereka upayakan. Semuanya gagal. Dan Jalan satu-satunya buat melepaskan sakit hati ialah mengganggu perasaannya. Semoga Allah Subhana WaTa’ala senantiasa menjaga niat kita agar  selalu istiqomah dijalanNYA. 
eramuslim.com
Read more