Tampilkan postingan dengan label Liputan Tabligh Akbar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liputan Tabligh Akbar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Desember 2013

Bedah Buku “Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” Dibanjiri 2300 Peserta


Lebih dari 2.300 hadirin ikhwan dan akhwat serta 18 Ormas Islam yang tergabung dalam komunitas Masyarakat Pecinta Sunnah Yogyakarta bersatu menyelenggarakan bedah buku yang diterbitkan MUI Pusat “Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” pada Ahad, (15/12) di Masjid Kampus UGM Yogyakarta.
Dalam acara tersebut Bupati Sleman, Drs. H. Sri Purnomo, MS.i memimpin langsung deklarasi Masyarakat Pecinta Sunnah sebagai simbol bersatunya ormas-ormas Islam di Yogyakarta dalam menanggulangi dampak penyebaran ajaran syiah di Indonesia.
Deklarasi kemudian diakhiri dengan penandatanganan simbolis perwakilan masing-masing ormas dan dilanjutkan dengan bedah buku.
Hadir dalam acara tersebut, Ketua MUI Pusat Prof. Dr. Yunahar Ilyas yang juga merupakan anggota tim penulis buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”, Ketua dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Dr. Muinudinillah Basri, M.A., Deklarator Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) pusat M. Zaitun Rasmin, Lc. M.A. serta Ustadz Fahrurazi Abu Syamil sebagai moderator.
Berikut ini,  isi teks deklarasi yang dibacakan di depan 2.300 umat Islam yang menghadiri acara tersebut:
Deklarasi Masyarakat Pecinta Sunnah Yogyakarta
Bismillahirrahmanirrahim
(Kalimat Syahadah)
Dengan nama Allah kami masyarakat muslim Yogyakarta, menyatakan sebagai bagian dari komunitas pecinta sunnah Nabi Saw, pecinta semua sahabat generasi pertama dri muhajirin dan Ansor, siap mengikuti manhaj dan sunnah dalam memenangkan Islam sebagaimana yang Allah perintahkan dan yang Rasulullah wasiatkan. Siap menghidupkan sunnah Nabi dalam kehidupan kami. Semoga Allah mengumpulkan kami dengan Nabi Muhammad Saw, keluarga beliau dan seluruh sahabat beliau dengan kecintaan kami kepada mereka.
Demikian pernyataan dari kami.
Yogyakarta, 15 Desember 2013

Mengetahui: Jamaah Shalahuddin UGM, FSLDK, LIDMI, Syam Organizer, FSRMY, Mahasiswa Pecinta Islam, Jamaah Ansharut Tauhid, Harakah Islamiyah, FORSALAMM, Indonesia Tanpa JIL – Yogyakarta, FKAM, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, KAMMI, Angkatan Muda Muhammadiyyah, Laskar Mujahidin, KMNU UGM, Majelis Mujahidin Indonesia, dan Hias Organizer. 

sumber  : KIBLAT.NET
Read more

Ketua MUI Pusat: Kesesatan Ajaran Syiah Harus Dijelaskan Kepada Masyarakat


Ketua MUI Pusat Prof. Dr. Yunahar Ilyas, menganggap solusi terbaik untuk menanggulangi bahaya syiah adalah dengan cara memberikan pemahaman kepada masyarakat seluas-luasnya tentang kesesatan aqidah syiah dan mewaspadai pergerakan Syiah di Indonesia.
Hal itu disampaikan oleh tokoh Muhammadiyah itu dalam acara “Deklarasi Masyarakat Pecinta Sunnah Yogyakarta”, sekaligus Bedah Buku yang diterbitkan oleh MUI Pusat, “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia, pada Ahad, 15 Desember 2013 di Masjid Kampus UGM, Yogyakarta.
Berkenaan dengan sikap MUI, Yunahar menegaskan bahwa “fokus MUI dalam menanggulangi dampak penyebaran syiah adalah dengan memahamkan masyarakat akan kesesatan ajaran syiah”. Adapun, mengenai penerbitan fatwa, selain proses di pusat yang lama, MUI belum melakukanya karena hal itu masuk dalam wilayah konflik sosial.
Pembicara yang lain, Deklarator MIUMI, Ustadz M. Zaitun Rasmin, Lc. M.A. menyampaikan materi tentang Penyimpangan Ajaran Syi’ah serta penanggulangannya. Menurutnya, sekurang kurangnya ada 5 ajaran yang mendasar dan sangat fatal yang menunjukkan penyimpangan aliran Syiah. Sebagaimana tertulis dalam buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” halaman 45-87,  yaitu:
1. Syiah meyakini bahwa Al-Qur’an yang ada saat ini tidak orisinil.
2. Syiah mengkafirkan mayoritas sahabat nabi seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman serta tidak menganggap Umul Mukminin ‘Aisyah dan Hafshah sebagai Ahlulbait.
3. Syiah menganggap seluruh umat Islam selain Syiah adalah kafir dan masuk neraka.
4. Syiah meyakini bahwa para Imam mereka memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan para nabi dan rasul
5. Syiah juga meyakini halalnya nikah Mut’ah bahkan menggolongkan perbuatan tersebut sebagai salah satu bentuk ibadah.
Adapun penanggulangan yang dia sarankan adalah:
1. Setiap orang Islam harus menjadi agen sosialisasi bagi masyarakat tentang penyimpangan ajaran Syiah, disertai pengetahuan dan hujjah yang kuat tentangnya.
2. Umat Islam harus mempunyai pemuda-pemuda ahli yang terus mengkaji ilmu ilmu tentang ajaran syiah,
3. Harus dibentuk aliansi Ahlus Sunnah pecinta keluarga dan sahabat Rasulullah,
4. Harus ada gerakan penanggulangan secara kultural maupun struktural.
Tercatat 18 ormas yang bergabung dalam komunitas Masyarakat Pecinta Sunnah antara lain: Jamaah Shalahuddin UGM, FSLDK, LIDMI, Syam Organizer, FSRMY, Mahasiswa Pecinta Islam, Jamaah Ansharut Tauhid, Harakah Islamiyah, FORSALAMM, Indonesia Tanpa JIL – Yogyakarta, FKAM, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, KAMMI, Angkatan Muda Muhammadiyyah, Laskar Mujahidin, KMNU UGM, Majelis Mujahidin Indonesia, dan Hias Organizer.

sumber  KIBLAT.NET,
Read more

Habib Rizieq Shihab Dukung Undang-undang Pelarangan Ajaran Syiah di Indonesia


Habib Rizieq Shihab mendukung adanya peraturan atau undang-undang yang melarang aliran syiah menyebarkan ajarannya di Indonesia. Hal itu disampaikan oleh tokoh Front Pembela Islam dalam acara “Seminar Mengurai Problema Sunni-Syiah dalam Perspektif Ukhuwah” di Islamic Centre Bekasi pada Rabu pagi (11/12).
Habib Rizieq mengutarakan bahwa pernah ada Muktamar Sunni-Syiah pada 21-22 Januari 2007 di Doha, Qatar. Pada pertemuan itu para tokoh menyimpulkan tiga poin penting.
Pertama, dilarang menghina atau melecehkan segenap ahlul bait Nabi Saw termasuk seluruh istrinya. Seluruh sahabat Nabi tanpa terkecuali.
“Ini sudah menjadi kesepakatan, gak boleh ada lagi yang menghina keluarga Nabi, sahabat Nabi tanpa terkecuali. Kalau mau berdialog, bersaudara, bertoleransi maka poin pertama ini harus ditepati oleh semua pihak,” ujar Habib Rizieq dalam kesempatannya.
Yang kedua, dan ini tidak kalah pentingnya, tekan Habib Rizieq. Dilarang melakukan misionarisme ajaran tertentu di wilayah yang lain. Indonesia ini negeri Ahlu sunnah waljamaah. Oleh karenanya, orang-orang syiah tidak boleh melakukan misionaris syiah di Indonesia.
“Jadi, saya setuju dengan apa yang disampaikan Dr. Kamal tadi. Kalau di Malaysia ada undang-undang yang melarang syiah untuk menyebarkan ajarannya. Mestinya di Indonesia juga dibuat undang-undang yang sama,” ujar Habib yang disahuti teriakan takbir para hadirin.
“Tidak boleh saudara, syiah menyebarkan ajarannya di negeri sunni. Itu akan menimbulkan konflik. Begitu juga sebaliknya, gak ada kan cerita orang sunni ke Iran untuk mensunnikan Iran. Gak ada sodara,” tegasnya lagi.
Habib menjelaskan bahwa di Iran itu penduduknya mayoritas beragama syiah. Jadi tidak boleh Ahlusunnah disana memaksakan ajarannya kepada orang syiah di Iran. Ia mempersilahkan jika Iran membuat peraturan melarang ajaran Ahlusunnah di negaranya.
“Tapi kita juga punya hak untuk bikin aturan. Indonesia merupakan negeri Ahlusunnah wal jamaah. Selain Ahlusunnah wal jamaah, tidak boleh menyebarkan ajarannya di Republik Indonesia,” seru habib Rizieq diiringi pekikan ‘Allahu Akbar’ dari para jamaah.
Kemudian yang ketiga, mendorong para ulama untuk menggalakkan dialog. Jika ini terlaksana dengan baik. Maka, tidak akan ada lagi perpecahan yang terjadi.
Habib Rizieq menukil pernyataan Syaikh Yusuf Qardhawi yang kecewa terhadap syiah yang selalu melanggar komitmen. ”Anda boleh tinggal di negeri sunni kami tidak larang. Anda ingin mengamalkan ajaran anda silahkan. Tapi kenapa minoritas sunni di negara anda (Iran, red) kok diganggu? Sehingga sulit untuk menjalankan keyakinannya. Kami tidak pernah berusaha mensunnikan negeri syiah. Lalu kenapa anda mengirim dai-dai anda para misionaris untuk mensyiahkan negeri sunni?? Kalau itu yang anda lakukan berarti anda tidak serius membangun dialog peradaban sunni dan syiah,” ujar Habib mengutip perkataan Syaikh Yusuf Qardhawi.
“Kenapa di masyarakat bawah masih ada yang mencaci sahabat, bahkan hingga tingkat pimpinan menerbitkan dan menerjemahkan kitab-kitab yang mencela sahabat dan istri Nabi Saw. Bahkan disebarluaskan di negeri Sunni. Kalau begini caranya, kata Yusuf Qardhawi. Saya mundur! Anda hanya memanfaatkan kami untuk menyebarluaskan ajaran syiah”.
Berdasarkan pemantauan Kiblatnet di lapangan, Habib Rizieq dipasangkan bersama Prof. Dr. Kamaluddin Nurdin, peneliti syiah Malaysia. Ratusan pesertsa seminar tampak memadati ruangan diskusi Islamic Centre Bekasi. Acara berakhir sekira pukul 11.30, menjelang shalat dzuhur.

sumber: KIBLAT.NET
Read more

Senin, 16 Desember 2013

Bersatu Bentengi Akidah Umat dari Virus Syiah

Meski Semarang dikenal sebagai poros gerakan Syiah di Jawa Tengah, namun kesadaran masyarakat untuk membentengi akidah umat dari bahaya Syiah sangatlah kuat.
Hal itu dapat dilihat dari animo ribuan masyarakat Semarang yang berbondong-bondong menghadiri Seminar dan Bedah Buku Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam, Minggu (01/12) di Masjid Mangun Karso, Semarang, Jawa Tengah.
Berbagai ormas maupun lembaga Islam pun turut hadir dalam acara yang digelar oleh Forum Al Kautsar dan Syam Organizer ini di antaranya, Majelis UlamaIndonesia (MUI) Front Pembela Islam (FPI), Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT), Majelis Mujahidin (MM), Dewan Dakwah, dan ormas-ormas Islam lainnya.
Ketua Syam Organizer Semarang, Abu Hanan, menyebut ini adalah acara yang paling banyak dihadiri Muslim Semarang dari sekian event sebelumnya.
“Alhamdulillah acara seminar-bedah buku Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam di Semarang berjalan lancar dan mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat Semarang san sekitarnya. Masjid dipenuhi peserta yang menyimak pemaparan ketiga pembicara,” kata Abu Hanan dikutip dari Islampos.
Dalam pemaparannya, Anggota Majelis Syariah Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT) Fuad Al Hazimi mebongkar kerancuan Syiah dalam mengkafirkan sahabat mulia nabi. Sebab jika Ali mengkafirkan Umar dan para sahabat, kenapa Ali justru menamai ketiga anaknya dengan nama Abu Bakar, Umar, Utsman. Bahkan Ali menikahkan anaknya dengan Umar.
“Inilah bukti kecintaan Ali kepada para sahabat nabi,” ujarnya.
Sementara itu, Pizaro menjelaskan pengalamannya saat bedah buku selama sepekan di Malaysia. Dia menilai penanganan Syiah di Malaysia sangat baik. Sebab pemerintah dan ulama sepakat Syiah sebagai kelompok menyimpang dan merusak kesatuan umat Islam.
“Syiah benar-benar tiarap di Malaysia. Saat kajian di Malaysia, saya sering melihat para Ustadz meminta masyarakat untuk segera melaporkan ke polisi jika mencium aktivitas Syiah. Saya masih mimpi itu terjadi di Indonesia,” kata Pizaro.
Sedangkan Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) DKI Jakarta, Anung Al Hamat Lc. M.Pd.I berharap agar acara ini menjadi tonggak bagi umat Islam di Semarang untuk bergerak membentengi akidah Ahlussunah wal Jama’ah dari serangan kelompok Syiah.
“Semarang adalah poros Syiah di Jawa Tengah setelah Pekalongan. Sudah seharusnya umat Islam di Semarang bersatu membentengi akidah umat,” pesan alumni Al Azhar Kairo itu.
Di akhir acara, Syam Organizer menggelar penggalangan dana untuk muslim Suriah dan terkumpul dana Rp 14.795.000,- dua cincin emas, satu buah jam tangan, dan satu mobil Honda Civic.

sumber :  (Islampos)

Read more

Senin, 09 Desember 2013

Umat Islam Banjiri Bedah Buku Panduan Bahaya Syiah di Jakarta


Sekitar seribu lebih umat Islam, Ahad pagi (6/12), menghadiri bedah buku panduan Mejelis Ulama Indonesia berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” di Masjid Nurul Iman, Blok M Square lantai 7, Jl. Melawai V, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kajian yang digelar atas kerjasama Dewan Dakwah Indonesia Jakarta (DDI) dan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) itu menghadirkan Dr. Fahmi Salim, MA (anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat) dan Dr. Ali Musri, MA (Ketua Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi’i (STDIIS) Jember)
Dari pantauan Kiblatnet, peserta yang datang dari berbagai daerah di Jakarta tersebut sudah memadati masjid sebelum acara dimulai. Sebelumnya mereka disambut panitia di pintu masjid dengan pembagian gratis buku panduan MUI yang akan diulas tersebut.
DR. Ali Musri sebagai pembicara pertama, banyak mengulas tentang ajaran Syiah menurut pandangan Al Qur’an dan As Sunnah. Beliau menjelaskan bahwa semua keyakinan sesat Syiah Rafidhah diciptakan karena demi membela satu hal, yaitu tentang wasiat dari Rasullah saw kepada Ali ra.
Demi membela satu hal ini, lanjutnya, mereka terpaksa menafsirkan Al Qur’an dan menjelaskan hadist-hadist Nabi sesuai dengan keinginan mereka. “Padahal, wasiat yang disebutkan tidak pernah ada di masa Nabi saw dan pada masa sahabat” papar Ustad kelahiran Sumatera Barat tersebut.
Pria yang mendapatkan gelar Doktor dari Universitas Madinah tersebut menambahkan, jika wasiat tersebut benar adanya, pasti Ali bin Abi Thalib mengungkapkan hal itu ketika para sahabat bermusyawarah sesaat setelah meninggalnya Rasulullah saw untuk memilih pengganti beliau sebagai pemimpin umat Islam. Lalu, siapa yang menghembuskan tentang wasiat itu? Ia adalah Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam untuk merusak kemurnian ajaran Islam dari dalam.
Meskipun, tambahnya, hal itu tidak diakui oleh orang-orang Syiah, namun ulama-ulama mereka mengakui bahwa Abdullah bin Saba adalah seorang tokoh Syiah terdahulu.
Sementara itu, DR. Fahmi Salim, MA lebih menjelaskan posisi MUI dalam menyikapi pemahaman Syiah di Indonesia. Beliau mengungkap bahwa tokoh-tokoh Islam Indonesia jauh-jauh hari telah memberikan peringatan tentang kesesatan ajaran Syiah.
Di antara mereka adalah Mantan Menteri Agama pertama Indonesia, Prof. DR. Muhammad Rashidi. Pada tahun 1983, Kementerian Agama RI mengeluarkan edaran tentang kajian Muhammad Rashidi tentang ajaran Syiah di Indonesia. Kesimpulan dari kajian tersebut, jelas Fahmi Salim, bahwa ajaran dan akidah Syiah bertentangan dengan ajaran Islam sesungguhnya.
Tokoh Islam yang melakukan hal yang sama adalah DR. Muhammad Nasir, mantan perdana menteri Indonesia dan pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Muhammad Nasir memberikan peringatan pada masa itu, kata Fahmi, jika masalah Syiah di Indonesia tidak segera di tangani mereka akan menajadi bom waktu.
Ia menjelaskan bahwa tujuan diterbitkannya buku pandua MUI yang berjudul mengenal dan mewaspadai penyimpangan syiah di Indonesia bertujuan untuk membentengi akidah umat Islam dari faham sesat ajaran Syiah tersebut. Karena, tambahnya, berdasarkan ijtima’ ulama Indonesia tahun 2006 bahwa semua ormas umat Islam di Indonesia memiliki pola yang sama, yaitu masih dalam koridor Ahlu Sunnah wal Jama’ah. “Jika ada perbedaan selama masih dalam koridor pemahaman sahabat Nabi, maka itu adalah perbedaan yang masih bisa ditolerir” jelas ustad yang juga menjabat sebagai Wakil Sekjen Majelis Ulama Muda Indonesia (MIUMI) tersebut.
Hingga menjelang Dhuhur, peserta yang hadir masih antusias mendengarkan pemaparan anggota MUI tersebut tentang data-data Syiah di Indonesia. Mereka menyimak dengan seksama slide demi slide yang ditampilkan ustad yang juga aktif di DDI tersebut.
Kajian tersebut diakhiri dengan pemutaran sejumlah rekaman video ritual-ritul Syiah di Indonesia dan tokoh-tokoh Syiah Indonesia yang ikut dalam ritual tersebut. Para peserta sempat terheran dengan beberapa tokoh yang ikut dalam ritual Syiah dalam video tersebut.

sumber : kiblat.net
Read more