Tampilkan postingan dengan label Profil Pejuang Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil Pejuang Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Desember 2013

AL-KHANSA’ ; Ibunda para Syuhadaa’


“Segala puji bagi Allah yang memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap kepada-Nya agar mengumpulkanku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya”

Itulah kalimat yang keluar dari lisan Al-Khansa’, ketika mendengar ke-empat anaknya gugur sebagai syuhadaa’ dalam perjuangan menegakkan Islam dalam perang Qodissiyah. Perempuan yang melahirkan para mujahid ini, dengan penuh ketabahan dan kesabaran telah mengokohkan anak-anaknya di medan jihad. Ia adalah Al Khansa’ sebutan dari seorang wanita yang bernama Tumazhir binti ‘Amru bin Syarid as-Sulami.
Ia masuk Islam tatkala mendengar dakwah Islam, ia bersama kaumnya Bani Sulaim mendatangi RasululLah dan menyatakan keislamannya. Ia ahli dalam syair. Bahkan suatu ketika Rasulullah menyuruhnya untuk melantunkan syair-syairnya. RasululLah kagum atas keindahan syairnya, beliau menyuruh Al-Khansa’ untuk melanjutkan syair’syairnya.
Ketika terjadi peperangan Qodisiyyah [Iraq], Al Khansa’ bersama keempat putra turut dalam peperangan. Ia menasehati putera-putera agar gagah dan tabah dalam perjuangan.
“Wahai anak-anakku, kalian telah masuk Islam dengan taat dan berhijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah yang tiada ilah yang haq selain Dia, kalian adalah putera dari laki-laki yang satu sebagaimana kalian juga putera dari wanita yang satu. Aku tak pernah mengkhianati ayah kalian, tak pernah mempermalukan khal [paman, saudara laki-laki ibu] kalian, tak pernah mempermalukan nenek moyang kalian, dan tak pernah menyamarkan nasab kalian”.
“Kalian semua tahu betapa besar pahala yang Allah siapkan bagi orang-orang yang beriman ketika berjihad melawan orang-orang kafir. Ketahuilah negeri akherat yang kekal jauh lebih baik dari negeri dunia yang fana, sebagaimana firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga [di perbatasan negerimu] dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”.[Ali Imran: 200]
“Andaikata esok kalian masih diberi kesehatan oleh Allah, maka perangilah musuh kalian dengan gagah berani, mintalah kemenangan atas musuhmu dari Ilahi.
Apabila pertempuan mulai sengit dan api peperangan mulai menyala, terjunlah kalian ke jantung musuh, habisilah pemimpin mereka saat perang tengah bekecamuk, mudah-mudahan kalian meraih ghanimah dan kemuliaan di negeri yang kekal dan penuh kenikmatan”.
Nasehat sang ibu ini membangkitkan semangat juang keempat putranya untuk maju di medan perang. Dengan gagah berani, di saat fajar menyingsing dengan menghunus pedang, mereka menghadang para musuh Allah sambil bersyair:
Saudaraku, ingatlah pesan ibumu
Tatkala ia menasehatimu di waktu malam
Nasehatnya sungguh jelas dan tegas,
Majulah dengan geram dan wajah seram
Yang kalian hadapi nanti hanyalah
Anjing-anjing Sasan yang mengaum geram
Mereka telah yakin akan kehancurannya
Maka pilihlah antara kehidupan yang tenteram
Atau kematian yang penuh keberuntungan
Begitulah, ia melesat bagai anak panah ke tengah-tengah musuh, berperang mati-matian, sampai akhirnya ia gugur sebagai syuhada. Majulah anak kedua sambil bersya’ir;
Ibunda adalah wanita yang hebat dan tabah,
Pendapatnya sungguh tepat dan bijaksana
Ia perintahkan kita dengan penuh kebijaksanaan
Sebagai nasehat yang tulus bagi puteranya
Majulah tanpa pusingkan jumlah mereka
Dan raihlah kemenangan yang nyata
Atau kematian yang sungguh mulia
Di jannah al-Firdaus yang kekal selamanya
Kemudian ia bertempur, menghancurkan musuh sampai titik darah penghabisan, akhirnya gugur sebagai syuhada menyusul saudaranya. Lalu anak yang ketiga mengikuti jejak kedua saudaranya, sambil bersyair ia maju ke medan pertempuran;
Demi Allah, takkan kudurhakai perintah ibu
Perintah yang sarat dengan rasa kasih sayang
Sebagai kebaktian nan tulus dan kejujuran
Maka majulah dengan gagah ke medan perang
Hingga pasukan Kisra terpukul mundur atau biarkan mereka tahu, bagaimana cara berjuang
Janganlah mundur karena itu tanda kelemahan
Raihlah kemenangan meski maut menghadang
Iapun tertempur mati-matian, sampai akhinya menyusul kedua saudaranya, gugur sebagai syuhada.
Majulah anak keempat menyusul ketiga saudaranya. Ia maju ke medan pertempuran seraya bersyair;
Aku bukanlah anak si Khansa’ maupun Akhram
Tidak juga Umar atau leluhur yang mulia
Jika aku tak menghalau pasukan Ajam [asing]
Melawan bahaya dan menyibak berisan tentara
Demi kemenangan yang menanti, dan kejayaan
Ataulah kematian, di jalan yang lebih mulia
Begitulah, ia bertempur habis-habis memperjuangan agama Allah. Bertempur dengan gagah berani yang akhirnya mengantarkan ia menyusul ketiga saudaranya, gugur sebagai syuhada’.
Begitu mendengar keempat anaknya gugur sebagai syuhada, Al-Khansa’ dengan tabah berucap, “Segala puji bagi Allah yang memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap kepada-Nya agar mengumpulkanku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya”
Figur seorang ibu yang sukses mengantarkan anak-anaknya sebagai syuhada. Ibu yang dari rahimnya melahirkan para syuhada yang dengan gagah berani bertempur melawan musuh memperjuangkan agama Allah. [Sumber: Ibunda Para Ulama]
Read more

Kamis, 11 Juli 2013

Imam Nawawi, Hidup dan Mati untuk Ilmu

 
Di kalangan pengikut madzhab Syafi’i, ia dikenal salah satu guru besar madzhab Syafi’i di zamannya atau digelari dengan “ra’is al-madzhab al-Syafi’i”. Salah satu yang menjadi kelebihannya adalah ia seorang pakar hadis, mendapat julukan al-hafidz.Fikihnya selalu disandarkan kepada hadis. Ia mensyarah kitab shahih Muslim, Syarh Shahih al-Muslim. Di bidang fikih ia terkenal karena menulis kitab fikih monumental, al-Majmu’, syarah kitab al-Muhadzdzab. Di zaman Imam Nawawi, dunia Islam sedang mengalami masa kejayaan di bidang ilmu.
Nama lengkapnya adalah Yahya bin Syaraf bin Murry bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam al-Nawawi. Dilahirkan di daerah bernama Nawa. Sebuah wilayah Hauran, Damaskus pada bulan Muharram tahun 631 H. Ayahnya adalah seorang Syeikh di Hauran. Murid Imam Nawai, Ibn al-‘Attar menceritakan bahwa ayahnya adalah seorang zuhud, wara’, wali Allah.

Hidup Di Zaman Perang
Di masa Imam Nawawi hidup, dunia Islam mengalami peristiwa-peristiwa besar. Kota Baghdad diserang oleh bangsa Tar-Tar. Umat Islam juga pada zamannya mengalami pasang-surut dalam menghadapi perang Salib. Hingga akhirnya, Imam Nawawi mengalami masa dimana umat Islam berhasil mengembalikan kejayaan di bawah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi.
Meski wilayah sentral, pusat peradaban Ilmu,  sedang mengalami masa cobaan besar, di zaman Imam Nawawi, di beberapa wilayah Islam tumbuh para ulama-ulama besar yang terkenal. Seperti Ibnu Sholah, Imam al-Rofi’i,  Ibn al-‘Adim, Ibnu Khallikan dan Ibnu ‘Arabi.
Imam Nawawi belajar pertama kali di kota Nawa di bawah asuhan ayahnya. Sebelum usia baligh ia sudah menghafal al-Qur’an. Ketia ia berumur 10 tahun, saat ia sedang menghafal al-Qur’an, seorang ulama besar Damaskus, Syaikh Yasin bin Yusuf al-Maraksyi datang ke rumahnya. Sang Syaikh berkata; “Anak ini semoga menjadi seorang yang paling alim dan zuhud di zamannya serta orang-orang akan mengambil manfaat ilmu darinya”.
Di usia tersebut hari-hari Imam Nawawi dihabiskan dengan membaca dan menghafal al-Qur’an. Sehingga, diceritakan oleh seorang muridnya, bahwa Nawawi kecil dijauhi oleh teman-teman sebayanya, karena tidak mau bermain-main, hanya sibuk membaca al-Qur’an.
Menginjak usia 18 tahun, Imam Nawawi diajak pindah oleh Ayahnya ke Damaskus, disebabkan kota Nawa tidak kondusif lagi untuk memperdalam ilmu. Damaskus pada masa itu dipenuhi para ulama dan menjadi tujuan para penuntut ilmu yang datang dari berbagai penjuru Negara-negara Islam.
Di kota Damaskus dia bertemu dengan Imam Masjid al-Umawiy, Syeikh Jamaluddin Abdul Kafi bin Abdul Malik al-Dimasyqi. Imam Nawawi diberi petunjuk oleh Syeikh Abdul Kafi untuk belajar di halaqah Mufti Syam, Syeikh Tajuddin Abdurrahman bin Ibrahim bin Dhiya al-Fazariy yang terkenal dengan Syeikh Farkah. Dialah guru pertama Imam Nawawi. Bersama Syeikh Farkah ia belajar beberapa tahun. Atas petunjuk Syeikh Farkah ia tinggal di madrasah Rawahiyyah, yaitu madrasah yang bersebelahan dengan Masjid Umawi.
Pada tahun pertama belajar di Damaskus beliau menghafalkan kitab At-Tanbih, kitab fiqih madzhab Syafi’i karya Imam Abu Ishaq Asy-Syairozi dalam waktu 4 setengah bulan, beliau menyetorkan hafalan kitab Tanbih ini pada Qodhil Qudhot Taqiyyuddin Abu Abdillah Muhammad Bin Al-Husain bin Rozin As-Syafi’i yang biasa disebut Syekh Ibnu Rozin. Lalu beliau menghabiskan tahun pertama dengan menghafalkan seperempat awal kitab Al-Muhadzdzab yang juga karya Imam Syairozi.
Sedikit Tidur Dan Penuh Disiplin
Dikisahkan, di madrasah Rawahiyah, Imam Nawawi selama dua tahun tidak bisa tidur normal, seperti biasanya manusia kebanyakan. Imam al-Dzahabi menceritakan ketekunan Imam Nawawi dalam belajar, bahwa siang dan malam dihabiskan untuk belajar. Tidak tidur kecuali memang mengantuk berat. Waktunya difokuskan untuk membaca, menulis kitab, muta’lah dan mengunjungi para Syaikh.
Pada masa awal belajar itu, Imam Nawawi sangat ketat mengatur jadwal mempelajari pelajaran di madrasah. Setiah harinya ia membaca dua belas pelajaran dihadapan para masyayikh Damaskus. Pelajaran yang ia baca misalnya, kitab al-Wasith, al-Muhadzdzab,  al-Jami’ baina al-Shahihain, Shahih Muslim, al-Luma’, Ishlahu al-Mantiq, al-Muntakhob, kitab tashrif, kitab Asma’ Rijal, dan kitab Tauhid.
Imam Nawawi belajar kepada sejumlah Syaikh yang pakar di bidangnya. Ia tidak hanya belajar pada satu dua guru, tapi tercatat ia belajar kepada duapuluh tiga Syaikh. Di antaranya yang utama adalah; guru bidang fikih: Syaikh al-Farkah, Syeikh Abdurrahman bin Nuh al-Maqdisi al-Dimasyqi (mufti Damaskus), di bidang ilmu hadis: Syaikh Ibrahim bin Isa al-Andalusi, Syaikh Abu Ishaq al-Wasithy, Syeikh Zainuddin Abul Baqa’ al-Nablusi, Syeikh Abdul Aziz bin Muhammad al-Anshari al-Syafi’i, Syeikh Zainuddin Abul Abbas bin Abdul Da’im al-Maqdisi,  guru di bidang Ilmu Ushul: Syaikh Abul Fath Umar bin Bandar bin Umar al-Taflisi al-Syafi’i, di bidang Ilmu Nahwu : Syaikh Ahmad bin Salim al-Mishri, Syeikh al-Fakhr al-Maliki dan lain-lain.
Di samping menguasai berbagai ilmu, ilmu yang paling menonjol dikuasai adalah Fikih dan Hadis. Sehingga, di kalangan ulama’ ia dikenal Muhaddis dan Faqih. Ia menguasai madzhab-madzhab para sahabat dan tabi’in beserta ikhtilaf (perbedaan) di antara mereka. Kitab fikihnya yang terkenal adalah Majmu’ syarah kitab Muhadzdzab. Imam Ibn Kastir mengatakan: “Imam Nawawi adalah seorang guru besar madzhab Syafi’i, pembesar ulama’ fikih pada zamannya”. Di bidang hadis ia mensyarah kitab Shahih Muslim dan Shahih Bukhari. Di bidang hadis ia mendapat gelar al-Hafidz. Ilmu Hadis termasuk menjadi perhatian penting Imam Nawawi. Dalam Syarh Muslim ia mengatakan bahwa termasuk ilmu yang paling penting adalah ilmu mengetahui hakikat hadis, matan hadis, mempelajari  status shahih, hasan dan dhaifnya hadis dan hal-hal lain terkait dengan ilmu hadis.
Ketinggian ilmunya diakui ulama-ulama kenamaan. Imam Al-Dzahabi berkata: “Beliau adalah profil manusia yang berpola hidup sangat sederhana dan anti kemewahan. Beliau adalah sosok manusia yang bertaqwa, qana’ah, wara, memiliki muraqabatullah baik di saat sepi maupun ramai. Beliau tidak menyukai kesenangan pribadi seperti berpa-kaian indah, makan-minum lezat, dan tampil mentereng. Makanan beliau adalah roti dengan lauk seadanya. Pakaian beliau adalah pakaian yang seadanya, dan hamparan beliau hanyalah kulit yang disamak”. Diceritkan, Imam Nawawi enggan diberi gelar Muhyiddin, karean tawaddu’nya ia kepada Allah.
Beliau selalu berusaha untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar sekalipun terhadap penguasa. Beliau sering berkirim surat kepada mereka yang berisi nasihat agar berlaku adil dalam mengemban kekuasaan, menghapus cukai, dan mengembalikan hak kepada ahlinya. Abu al-Abbas bin Faraj berkata: “Ia telah berhasil meraih 3 tingkatan yang mana 1 tingkatannya saja jika orang biasa berusaha untuk meraihnya, tentu akan merasa sulit. Tingkatan pertama adalah ilmu (yang dalam dan luas).Tingkatan kedua adalah zuhud (yang sangat). Tingkatan ketiga adalah keberanian dan kepiawaiannya dalam beramar ma’ruf nahi munkar”.
Kitab – Kitab Imam Nawawi
Imam Nawai telah berhasil menulis karya 47 kitab. Ia sebenarnya menulis karya judul lebih dari 47, namun belum sempat terselesaikan sampai beliau wafat pada usia 46 tahun. Karya kitabnya adalah; Syarh Shahih Muslim, al-Raudhah, Minhaju al-Thalibin, al-Adzkar al-Muntakhabah min Kalam Sayyidi al-Abrar, al-Tibyan fi Adabi Hamlati al-Qur’an, al-Tahrir fi Alfadzi al-Tanbih, al-‘Umdah fi Tashihi al-Tanbih, al-Idhah fi al-Manasik, al-Irsyad, al-Arba’in al-Nawawiyah, Bustan al-‘Arifin, Manaqib al-Syafi’i, Mukhtashar Asadul Ghobah, al-Fatawa al-Musammah bi al-Mas’il al-Mantsurah, Adabul Mufti wa al-Mustafti, Masail Takhmis al-Ghonaim, Mukhtashor al-Tadzhib, Daqoiq al-Raudah, Tuhfah Tullabul Fadhail, al-Tarkhish fi al-Ikhram wa al-Qiyam, Mukhtashar Adab al-Istisqa wa Ru’usil Masail, Manarul Huda, al-Maqashid, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, Syarh al-Wasith, Syarhul Bukhari, Syarh Abi Dawud, al-Imla’ ala Hadits al-A’mal binniyat, Kitabul Amaliy, al-Khulashoh fi Ahadisil Ahkam, Thabaqatul Fuqoha’, al-Tahqiq, Tuhfatul Thalib al-Nabih, Jami’ al-Sunnah, Muhimmatul Ahkam, al-Ushul wa al-Dhawabith, al-Isyarat,Tuhfatul Walid wa Raghbatul Ro’I, Khulasotul Ahkam fi Muhimmatis Sunan wa Qawaidul Islam, Ruhul Masa’il fi al-Furu’, ‘Uyunul Masa’il al-Muhimmah, Ghaitsu al-Naf’ fi Qiraati al-Sab’, al-Mubham min Hurufil Mu’jam, Mir’atuz Zaman fi Tarikhil al-‘A’yan.
Imam Nawawi wafat pada 24 Rajab tahun 676 pada usia 46. Beliau belum sempat menikah. Ketika kabar wafatnya beliau tersiar sampai ke Damaskus, seolah seantero Damaskus dan sekitarnya menangisi kepergian beliau. Kaum muslimin benar-benar merasa kehilangan beliau. Penguasa di saat itu, ’Izzuddin Muhammad bin Sha’igh bersama para jajarannya datang ke makam Imam Nawawi di Nawa untuk menshalatkannya. Dalam kitabnya Syarh al-Muhadzdzab beliau menulis pesan bahwa keutamaan ilmu itu untuk para penuntut ilmu yang mencarinya karena ridha Allah. Hukumnya tercela (madzmum) menuntut ilmu dengan tujuan duniawi, mencari kedudukan, pangkat, kehormatan, atau menginginkan popularitas.

sumber : Bumisyam
Read more

Selasa, 09 Juli 2013

Abdullah Azzam Menghidupkan Kembali Kewajiban Jihad di Era Modern

Nama lengkap beliau adalah Abdullah Yusuf Azzam. Lahir pada tahun 1360 H/1941 M di desa Sailatul Haritsiyah, Jenin, Tepi Barat, Palestina. Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di desa kelahirannya tersebut.
Setelah itu beliau melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Teknologi Pertanian di mana berhasil meraih gelar diploma dengan derajat imtiyaz(Istimewa). Selepas kuliah, bekerja di bidang pendidikan dan menikah dengan Ummu Muhammad pada usia 18 tahun.
Hafal Al-Qur’an, ribuan hadits, juga syair. Melanjutkan studi keislaman di Fakultas Syariah, Universitas Damaskus, Suriah, dengan cara intisab (studi jarak jauh). Berhasil meraih gelar sarjana (Lc.) pada tahun 1386 H/1966 M dengan predikat jayyid jiddan (Sangat Memuaskan).
Pada Perang Arab-Negara Israel 1387 H/1967 M, Abdullah Azzam kembali ke Palestina untuk melaksanakan kewajiban i’dad dan jihad serta berpartisipasi dalam banyak pertempuran mengusir penjajah. Di sela-sela perjuangannya, beliau masih sempat melanjutkan studi magister dan berhasil meraih gelar master (M.A.) pada tahun 1389 H/1969 M juga dengan predikat jayyid jiddan. Setelah wilayah Tepi Barat jatuh ke Israel, beliau berhijrah ke Yordania pada 1390 H/1970 M dan bekerja sebagai dosen di Fakultas Syariah, Universitas Yordania, Amman. Kemudian mendapat beasiswa tugas belajar dari kampusnya untuk studi doktoral pada bidang Usul Fikih di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Gelar doktor pun berhasil diraih pada tahun 1393 M/1973 M dengan predikat asyraful ‘ula(Dengan Pujian). Disertasi beliau berjudul Dalatul Kitabi was Sunnati ‘alal Ahkam, setebal 930 halaman.
Pada tahun 1980 M/1400 H keluar surat pemberhentian beliau sebagai dosen dari Otoritas Militer Yordania karena aktivitas keislaman beliau. Selama di Yordania beliau memang aktif berjihad di sekitar perbatasan Palestina–Yordania. Beliau kemudian hijrah ke Arab Saudi dan kemudian mengajar di Universitas King Abdul Aziz, Jeddah. Di sinilah memulai interaksi secara intens dengan mahasiswa yang kelak dianggap sebagai pendukung dan penerus utamanya di Maktab Al-Khidmat, yaitu Usamah bin Ladin.
Setahun kemudian beliau pindah mengajar sebagai “dosen terbang” di Universitas Islam Internasional di Islamabad atas permintaan sendiri, agar lebih dekat dengan jihad Afganistan. Mulai terlibat kembali dengan amal jihadi sejak tahun 1402 H. Puncaknya adalah berdirinya Maktab Al-Khidmat (Kantor Pelayanan Mujahidin) pada tahun 1404 H; sebuah lembaga yang menjadi cikal-bakal Tanzhim Al-Qa’idah.
 Setelah berakhirnya masa tugas beliau di Pakistan, pihak Universitas Raja Abdul Aziz menolak untuk memperpanjang kontrak. Beliau pun mengajukan pengunduran diri dan mulai tahun 1406 H bekerja di Rabithah Al-‘Alam Islami sebagai mustasyar (konsultan) di bidang pendidikan bagi mujahidin Afganistan. Selama di Pakistan beliau berinteraksi dengan para pemimpin utama Mujahidin Afghan, seperti Abdu Rabbirrasul Sayyaf, Hikmatyar, Burhanuddin Rabbani, Muhammad Yunus Khalish, Jalaluddin Haqqani dan Ahmad Syah Mas’ud.
Dr. Abdullah Azzam pun semakin intens pergi ke medan jihad Afganistan. Beliau pun sampai pada kesimpulan bahwa jihad Afgan adalah jihad islami dan hukumnya fardhu ‘ain bagi yang mampu. Mengingat nilai strtejiknya, umat Islam seluruh dunia wajib mendukung jihad ini. Beliau pun mengonsentrasikan seluruh potensi dirinya dan memotivasi umat dengan jihad Afganistan.
Pada hari Jumat, 24 Rabiul Akhir 1410 H, Syekh Abdullah Azzam menjemput kesyahidan—insyaallah—ketika menuju ke Masjid Sab’ul Lail, Peshawar. Ketika dalam perjalanan untuk memberikan khotbah Jumat, mobilnya melaju di atas ranjau yang ditanam oleh musuh. Semoga Allah merahmati beliau dan keluarganya serta mengaruniakan pahal yang sebaik-baiknya.
Musuh-musuh Islam mungkin mengira bahwa jihad akan padam dengan meninggalnya beliau. Jasad beliau memang binasa, namun kata-kata dan motivasi beliau tetap hidup. Terbukti, akademi militer mujahidin (muaskar) yang beliau rintis berhasil meluluskan alumni-alumni yang kelak terlibat dalam berbagai kancah jihad internasional.
Karya-karya Abdullah Azzam pun tetap hadir di tengah umat. Maktab Al-Khidmat sendiri setidaknya berhasil mendokumentasi khotbah dan muhadharah (ceramah) beliau dan membukukannya hingga lebih dari 50 karya, di antaranya serial At-Tarbiyyah Al-Jihadiyyah wa Al-Bina’ (16 buku), Al-Hijrah wa Al-I’dad (3 buku), dan Hadamul Khilafati wa Bina’uha (1 buku). Lebih dari 40 karya beliau dalam versi digital hingga kini juga bisa diakses di situs internet Minbar At-Tauhid wa Al-Jihad pada URL: http://tawhed.ws/a?a=a82qriko.
Read more

Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Uswah dan Gurunya Para Ulama Salaf

Dari tangan Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyah lahir ulama-ulama kenamaan dari berbagai madzhab di negeri Syam, baik Syafi’iyyah maupun dari Hanbaliyyah. Ia juga terkenal produktif menulis buku. Tercatat, ada sekitar 41 buah karya kitab dari berbagai disiplin ilmu telah ia tulis selama hidupnya. Karena itu, ia dijuluki “kamus ilmu pengetahuan”.


Dia dilahirkan pada tanggal 7 Shafar tahun 691 H. Di perkampungan Hauran, sebelah tenggara Damaskus. Ayahnya adalah seorang kepala Madrasah al-Jauziyyah, sebuah Madrasah  yang didirikan oleh Syaikh oleh Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf bin Abdil Rahman bin Ali al-Jauzi. Nama al-Jauziyah adalah nisbat kepada madrasah yang dikelola oleh ayahnhya.

Beliau adalah ahli fikih bermadzhab Hanbali. Disamping itu juga seorang ahli tafsir, ahli hadits, penghafal al-Quran, ahli ilmu nahwu, ahli ushul, ahli ilmu kalam, sekaligus seorang mujtahid dari madzhab Hanbali. Guru pertamanya adalah ayahnya sendiri, Syaikh Abu Bakar al-Jauzi, ulama yang ahli fikih dan ilmu faraidh.

Guru utamanya adalah Syaikh Ibnu Taimiyah, dimana ia beberapa tahun bermulazamah dengannya. Sejak tahun 712 H hingga wafatnya tahun 728 H.  Pada masa itu, Ibnul Qayyim sedang pada awal masa-masa mudanya. Oleh karenanya beliau sempat betul-betul mereguk sumber mata ilmunya yang luas. Beliau dengarkan pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah yang penuh kematangan.

Dia tidak hanya pakar fikih Hanbali tapi juga ahli tafsir, hadis, kalam, tasawwuf dan sastra Arab. Seorang muridnya, Ibnu Rajab, berkomentar: “Dia pakar dalam tafsir  tak tertandingi, ahli dalam bidang ushuluddin dan ilmu ini mencapai puncak di tangannya, ahli dalam fikih dan ushul fikih, ahli dalam bidang bahasa Arab dan memiliki kontribusi besar di dalamnya, ahli dalam bidang ilmu kalam, dan juga ahli dalam bidang tasawuf. Ibnu Katsir berkata, “Dia mempelajari hadits dan sibuk dengan ilmu. Dia menguasai berbagai cabang ilmu, utamanya ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu ushuluddin, dan ushul fikih”.

Burhanuddin al-Zar’i mengatakan bahwa tidak ada di bawah ufuk bumi ini yang lebih luas ilmunya daripada Ibnu al-Qayyim . Dia telah menulis dengan tangannya karya-karya yang tak dapat digambarkan dan menyusun sejumlah karangan yang banyak sekali tentang berbagai ilmu.

Ia menjadi teladan baik untuk para ulama karena cukup produktif menulis. Ada sekitar 41 karya kitab yang telah ia tulis. Di antaranya:

Tahdzib Sunan Abi Daud, I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin, Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadlban, Ighatsatul Lahfan fi Masha`id asy-Syaithan, Bada I’ul Fawa’id Amtsalul Qur’an, Buthlanul Kimiya’ min Arba’ina wajhan, Bayan ad-Dalil ’ala istighna’il Musabaqah ‘an at-Tahlil, At-Tibyan fi Aqsamil Qur’an, At-Tahrir fi maa yahillu wa yahrum minal haris, Safrul Hijratain wa babus Sa’adatain, Madarijus Salikin baina manazil Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in, Aqdu Muhkamil Ahya’ baina al-Kalimit Thayyib wal Amais Shalih al-Marfu’ ila Rabbis Sama’, Syarhu Asma’il Kitabil Aziz, Zaadul Ma’ad fi Hadyi Kairul Ibad, Zaadul Musafirin ila Manazil as-Su’ada’ fi Hadyi Khatamil Anbiya’, Jala’ul Afham fi dzkris shalati ‘ala khairil Am, Ash-Shawa’iqul Mursalah ‘Alal Jahmiyah wal Mu’aththilah, Asy-Syafiyatul Kafiyah fil Intishar lil firqatin Najiyah, Naqdul Manqul wal Muhakkil Mumayyiz bainal Mardud wal Maqbul, Hadi al-Arwah ila biladil Arrah, Nuz-hatul Musytaqin wa raudlatul Muhibbin, al-Jawabul Kafi Li man sa`ala ’anid Dawa`is Syafi, Tuhfatul Wadud bi Ahkamil Maulud,Miftah daris Sa’adah, Ijtima’ul Juyusy al-Islamiyah ‘ala Ghazwi Jahmiyyah wal Mu’aththilah, Raf’ul Yadain fish Shalah, Nikahul Muharram, Kitab tafdlil Makkah ‘Ala al-Madinah, Fadl-lul Ilmi, ‘Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin, al-Kaba’ir, Hukmu Tarikis Shalah, Al-Kalimut Thayyib, Al-Fathul Muqaddas, At-Tuhfatul Makkiyyah, Syarhul Asma il Husna, Al-Masa`il ath-Tharablusiyyah, Ash-Shirath al-Mustaqim fi Ahkami Ahlil Jahim, Al-Farqu bainal Khullah wal Mahabbah wa Munadhorotul Khalil li qaumihi,  Ath-Thuruqul Hikamiyyah.

Meski Syaik Ibnu Qayyim bermadzhab Hanbali, namun para muridnya ternyata ada yang dari madzhab Syafi’i. hal ini menunjukkan tradisi para ulama dahulu yang tidak egois dan fanatik dalam madzhab. Yang hebat, para muridnya banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti Ibnu Katsir, seorang imam hafizh yang terkenal yang terkenal dengan kitab tafsirnya. Selain Ibnu Katsir, di antaranya adalah:
  1. Ibnu Rajab. Dia adalah Abdurrahman Zainuddin Abu al-Faraj bin Ahmad bin Abdurrahman yang biasa digelar dengan Rajab al-Hanbali. Dia memiliki beberapa karangan yang bermanfaat.
  2. Syarafuddin Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Dia adalah putra Abdullah bin Muhammad. Dia sangat brilian. Dia mengambil alih pengajaran setelah ayahnya wafat di ash- Shadriyah.
  3. As-Subki. Dia adalah Ali Abdulkafi bin Ali bin Tammam as-Subki Taqiyuddin Abu al-Hasan.
  4. Adz-Dzahabi. Dia adalah Muhammad bin Ahmad bin ‘Usman bin Qayimaz adz- Dzahabi at-Turkmani asy-Syafi’i. Dia adalah seorang imam, hafizh yang memiliki banyak karangan dalam hadits dan Iain-lain.
  5. Ibnu Abdulhadi. Dia adalah Muhammad Syamsuddin Abu Abdullah bin Ahmad bin Abdulhadi al-Hanbali. Dia adalah seorang hafizh yang kritis.
  6. An-Nablisi. Dia adalah Muhammad Syamsuddin Abu Abdullah an-Nablisi al- Hanbali. Dia mempunyai beberapa karangan, di antaranya kitab Mukhtashar Thabaqat al-Hanabilah.
  7.  Al-Ghazi. Dia adalah Muhammad bin al-Khudhari al-Ghazi asy-Syafi’i. Nasabnya sampai kepada Shahabat Zubair bin Awwam r.a.
  8. Al-Fairuzabadi. Dia adalah Muhammad bin Ya’qub al-Fairuzabadi asy-Syafi’i. Dia pengarang sebuah kamus dan karangan-karangan lain yang baik.
Ibnul Qayyim meninggal dunia pada waktu isya’ tanggal 13 Rajab 751 H. Ia dishalatkan di Mesjid Jami’ Al-Umawi dan setelah itu di Masjid Jami’ Jarrah; kemudian dikuburkan di Pekuburan Babush Shagir.Bumi Syam 
Read more