Tampilkan postingan dengan label Hot News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hot News. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Desember 2013

Jika Umat Tahu Sunnah, Mereka Akan Bersikap Tegas Terhadap Syi'ah


Menangkal tersebarnya kesasatan Syi’ah di Indonesia, Dewan Syari’ah Kota Surakarta (DSKS) punya strategi sendiri, yaitu menguatkan identitas umat sebagai pecinta sunnah. Ini sebagai langkah nyata untuk menguatkan imunitas umat dari virus-virus perusak akidah. Demikian sebagian kesimpulan wawancara voa-islam.com dengan Ustadz DR. Mu’inuddinillahi Basri, selaku ketua DSKS beberapa pekan lalu.

Metode yang akan ditempuh DSKS untuk memupuk kecintaan kepada Sunnah adalah dengan serius melakukan gerakan memahamankan umat terhadap Sunnah. Bahwa sunnah itu manhajnya para sahabat.

“Ketika ummat tahu sunnah maka mereka akan tegas terhadap Syiah.” Tutur dosen pasca sarjana UMS dengan penuh harap.

Kemudian dimunculkan kelebihan-kelebihan para sahabat Nabi ridhwanullah ‘alaihim dan pendapat-pendapat mereka. Sehingga umat memiliki kesimpulan, pandangan-pandangan akidah yang berseberangan dengan para sahabat adalah batil.

“Umat memahami sikap Syi’ah berlebih kepada Ali adalah sikap yang batil,” tuturnya.

DSKS bertekad melakukan gerakan cinta sunnah ini secara besar-besaran. “Gerakan pelajar cinta sunnah, gerakan saudagar cinta sunnah, polisi cinta sunnah, tentara cinta sunnah,” harapnya dengan sungguh-sungguh.
DSKS bersama elemen umat Islam Solo Raya telah bersepakat mendeklarasikan gerakan Komunitas Pecinta Sunnah (KPS) di stadion Manahan Surakarta pada Rabu, (25/12/2013) mendatang.

Acara yang bertepatan 22 Shaffar 1435 Hijriyah tersebut, memiliki tujuan besar untuk memberikan akselerasi dan kontribusi umat Islam Solo bagi kebangkitan Ummat Islam sedunia.

Selain itu, masih menurut Ketua DSKS, gerakan ini juga dengan sendirinya akan memilah kaum muslimin yang Ahlus Sunnah dengan Syi’ah.
“Ketika immunitas kaum muslimin terbangun maka dengan mudah mereka akan menolak virus jahat yang disebarkan kaum Syiah kepada Ummat Islam,” demikian tandas ustadz Mu’in.

Ustad Mu’in berharap, dengan gerakan cinta sunnah ini maka immunitas Ummat didapatkan.

sumber  [voa-islam.com]
Read more

Jumat, 13 Desember 2013

Ust Abu Rusydan: Inhiraful Ushur & Gembosnya Dr. Najih Ibrahim

Berikut adalah tulisan yang cukup menarik terkait gembosnya Dr. Najih Ibrahim yang dulu dalam bukunya banyak menginspirasi mujahid muda untuk berlaga lantang ke medan Jihad.

Tulisan menarik dan mengupas permasalahan runtuhnya semangat Jihad Dr. Najih Ibrahim tersebut, berikut kami kutipkan tulisan Ustadz Abu Rusydan dari kiblat.net.

Orang-orang kafir, munafik, setan, nafsu dan mukmin yang hasad, ada lagi “musuh” mujahid yang sangat berbahaya. Bahkan bahayanya lebih besar dibanding 5 musuh yang terdahulu.
Sebab, lima hal yang disebut di muka gampang dikenali keberadaannya sehingga sensor kewaspadaan kita mudah mencegah dan mengingatkan. Sementara “musuh” berikut ini sifatnya sangat abstrak.

Sehingga kadang seorang Mujahid tidak sadar kalau ia sedang berhadapan dengan “musuh” ini. Dua hal itu adalah: Inhiraaful Ushur ( إنخراف العصور ). Bahasa paling mudahnya, silih-bergantinya zaman (wolak-walik ing zaman: Jawa) dan tamkhis (penyaringan).
Ilustrasi berikut ini mungkin dapat memudahkan kita memahami betapa inhiraaful ushur bisa menjebak Mujahid sehingga berbalik langkah. Suatu hari, di hadapan para shahabat, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh, di antara kalian yang hadir di majlis ini, ada yang gigi gerahamnya di neraka lebih besar daripada gunung Uhud!” Setelah itu, Abu Hurairah tidak bisa tidur nyenyak. Khawatir. Ia sibukkan diri bertaqarrub kepada Allah, memohon agar orang yang dimaksud Rasulullah SAW sebagai penghuni neraka dengan geraham sebesar Uhud itu, bukan dirinya.

Waktu berlalu, dan orang yang hadir di majlis Rasulullah SAW saat itu, tinggal dua: Abu Hurairah dan Ar-Rajjal bin Unfuwah. Di era kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq terjadilah fitnah kenabian palsu oleh Musailamah Al-Kadzab.

Bermaksud ingin menyelesaikan masalah, Ar-Rajjal meminta izin Khalifah Abu Bakar untuk memediatori Khalifah dan Musailamah. Belakangan, ketika berhadapan dengan Musailama, Ar-Rajjal tersihir oleh kata-kata nabi palsu itu. Akhirnya ia membelot, menjadi pendukung Musailamah Al-Kadzab. Semenjak itu, tenanglah perasaan Abu Hurairah.
Silih bergantinya zaman dengan membawa segenap perbedaan peta perlawanan, kondisi medan serta ragam taktik dan strategi bisa menjadi jebakan mematikan bagi seorang mujahid.

Ia dituntut untuk selalu istiqamah di saat segalanya bisa berubah dengan begitu cepat dan mudah. Oleh sebab itu, kita jumpai orang-orang yang di masa tertentu menjadi ikon jihad yang disegani. Namun di masa berikutnya menjadi kerak yang menyumbat gerakan jihad.
Di negeri ini, misalnya. Berapa banyak tokoh yang dulu dikenal sebagai aktivis pergerakan Islam yang hari ini parkir di ruang demokrasi?
Mengenang jihad Afghanistan yang dulu pernah saya hadiri, ada fragmen-fragmen yang membuat dada saya terasa sesak. Terutama bila mengenang Syaikh Abdur Rabbir Rasul Sayyaf.

Pernah, dalam suatu masa kami, orang-orang Indonesia yang di Afghanistan merasa disia-siakan oleh beberapa orang di sana. Kami merasa dicemooh.
Kami mengadu kepada Syaikh Sayyaf, “Ya Syaikh, kami merasa sudah tidak bermanfaat apa-apa di sini. Keberadaan kami hanya menghabiskan susu, telor dan daging. Bagaimana kalau kami pergi saja dari negeri ini?” Dengan sangat bijak beliau menghibur, “Antum duduk dan diam saja di sini… Itu sudah sangat bermanfaat buat kami. Apalagi antum di sini masih lari-lari dan latihan (i’dad).”

Hari ini, beliau dengan rambut dan janggut yang memutih semua… tubuhnya pun menyusut kurus—padahal dulu, saat berpelukan tangan kami tak kuasa melingkari tubuhnya.
Beliau hari ini duduk di Loya Jirga (semacam Dewan Perwakilan Daerah) di rezim Hamid Karzai. Menyedihkan. Saya masih berharap, pilihan Syaikh Sayyaf untuk duduk di Loya Jirga itu merupaka ijtihad yang masih bisa dibenarkan.

Kesedihan serupa juga, ketika mengenang Ahmad Syah Mas’ud. Komandan dari Lembah Pansyir yang bersumpah akan membebaskan setiap jengkal tanah Afghanistan dari cengkraman orang-orang kafir, pada akhirnya harus berhadap-hadapan melawan mujahidin Taliban.

Saya mengajak kita melihat fenomena di atas sebagai fakta yang kita baca dengan sepenuh salamatus shadr (berlapang dada).
Pembicaraan tentanng inkhiraful ushuur meliputi dua hal:
  1. Terkait dengan ushuur (zaman) nya itu sendiri. Ada zaman baik, ada zaman buruk. Siapapun tidak ada yang bisa menolak. Termasuk ketika salah seorang shahabat mengeluh kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib RA di mana saat itu mulai tersebar banyak fitnah. “Wahai Ali, mengapa dahulu di zaman Abu Bakar baik-baik saja, tidak terjadi fitnah seperti sekarang?” Sang Khalifah pun menjawab, “Dahulu pemimpinnya Abu Bakar, rakyatnya saya. Lha sekarang pemimpinnya saya, rakyatnya kamu.” Ali bin Abi Thalib… orang yang baik tetapi berada di zaman yang mulai buruk.
Perjuangan merebut Al-Aqsha sudah berlangsung jauh masa sebelum kelahiran Shalahuddin Al-Ayyubi. Hanya saja, menjadi rezeki bagi Shalahuddin, ketika ia tampil pada saat zaman yang baik. Di bawah kepemimpinannya, kaum Muslimin berhasil merebut Al-Aqsha.

Demikian pula dengan perjuangan menaklukkan Konstantinopel. Sudah dilakukan puluhan tahun sebelum kemunculan Muhammad Al-Fatih. Bahkan, konon di dalam benteng Konstantinopel itu terdapat makam shahabat Abu Ayyub Al-Anshoriy.
Tetapi, zaman baik sedang berada di saat Muhammad Al-Fatih memegang tongkat komando. Konstantin pun berhasil ditaklukkan di bawah kepemimpinanya. Shalahuddin dan Al-Fatih… lelaki yang baik, berada di zaman yang sedang baik.

Sekali lagi, baik-buruknya zaman adalah inkhiraful ushuur yang tidak akan sanggup ditolak oleh manusia. Rasulullah SAW bersabda:

بادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا  
“Segeralah beramal, sebelum datangnya fitnah seperti potongan malam yang gelap. Di mana seseorang pada pagi hari dalam keadaan iman, lalu sore harinya menjadi kafir. Atau sore hari dalam keadaan mukmin, dan malam hari menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan iming-iming duniawi.” (HR. Muslim). 
Oleh sebab itu, inkhiraful ushuur ini patut kita waspadai. Sebagaimana kewaspadaan sekaligus kekhawatiran Abu Hurairah tentang penghuni neraka bergeraham sebesar Uhud di atas.

Bukti kewaspadaan kita terhadap fitnah inkhiraaful ushuur ini berbanding lurus dengan kualitas taqarrub kita kepada Allah. Semakin kita waspada, seharusnya semakin giat kita berusaha mendekat kepada-Nya.
  1. Tamhish. Kalau berkaitan dengan zaman ada inkhiraaful ushuur, maka terkait personal, dalam menghadapi kondisi zaman yang berubah-ubah itu ada proses tamhish (seleksi).
Selama ini istilah tamhish lebih lekat dengan seleksi yang dilakukan oleh organisasi atau struktur sebuah gerakan terhadap anggota-anggotanya. Padahal, selain tamhish structural tersebut, adapula tamhish rabbani.
Ketika sistem tamhish struktural itu kurang baik sehingga masih meloloskan orang-orang yang semestinya tidak layak sensor, ketahuilah, orang-orang seperti itu tidak akan lolos dari tamhish rabbani.
Kisah Thalut dan pasukannya ketika menyebrang sebuah sungai, memberikan pelajaran berharga tentang tamhish structural dan rabbani tersebut.
Orang-orang yang meminum air sungai itu dengan sendirinya rontok ter-tamhish ketika berhadapan langsung dengan pasukan lawan.

“Sungguh, kita tidak akan mampu menghadapi Jalut dan pasukannya,” kilah mereka. Dan dengan sendirinya, mereka pun terseleksi dari pasukan yang setia bersama Thalut ! 

(kiblat.net)
Read more

Senin, 22 Juli 2013

Mantan Jurnalis TV Luncurkan Buku ‘Kezaliman Media Massa Terhadap Umat Islam’

Berada dalam posisi nyaman, punya jabatan tinggi, bergaji hampir puluhan juta, biasanya membuat seseorang tidak lagi memikirkan idealisme. Kebanyakan orang justru akan mempertahankan posisinya seperti itu, apalagi di tengah arus materialisme yang terus melanda umat manusia.
Namun, seperti dilaporkan islampos.com, berbeda dengan sosok pria satu ini, yang rela melepaskan itu semua demi sebuah idealisme yang berasal dari pemahamanannya tentang Islam. Sosok tersebut adalah Mohamad Fadhilah Zein, sosok manusia yang telah malang melintang dalam dunia jurnalisme dan terakhir posisinya pernah sebagai news producer untuk salah satu televisi nasional ternama yang ada di Indonesia.
Bagi Fadhil – panggilan akrab beliau – pemberitaan media massa tentang umat Islam sangat tendensius dan tidak berimbang. Media massa di Indonesia, sengaja atau tidak tidak, telah bertindak zalim terhadap umat terbesar di Republik ini. Dan inilah salah satu alasan utama dirinya lebih memilih untuk mundur dari posisi nyamannya sebagai salah satu ‘petinggi’ di media. Mungkin sebagian orang akan menganggap dirinya bodoh keluar dari pekerjaannya, namun bagi Fadhil keberpihakan terhadap umat dan idealisme lebih utama daripada jabatan dan harta yang berlimpah.
Pasca mundur sebagai new producer salah satu televisi swasta, Fadhil yang telah lama merasa terjadi pertentangan batin di dalam dirinya sewaktu melihat kezaliman media terhadap pemberitaan umat Islam termasuk televisi tempat dia dulu bekerja, mulai mengumpulkan fakta-fakta dan bukti kezaliman yang dilakukan media terhadap umat Islam. Dan akhirnya untuk melampiaskan gejolak di dalam hatinya serta sebagai upaya mengedukasi masyarakat tentang tidak adilnya media terhadap umat Islam, Fadhil memilih membuat sebuah buku berjudul “Kezaliman Media Massa Terhadap Umat Islam.”
Dalam bukunya setebal hampir 200 halaman tersebut, Fadhil memaparkan secara gamblang banyak kasus tentang bagaimana media massa mainstream (baca: sekuler) ketika memberitakan segala sesuatu yang terkait umat Islam. Hampir semua pemberitaan media massa arus utama tersebut selalu menyudutkan umat Islam. Sebagai contoh pemberitaan kasus terorisme, FPI, penyegelan gereja Yasmin dan lain sebagainya.
Tentu saja harus ada upaya dari umat Islam untuk mengcounter semua pemberitaan yang cenderung banyak salahnya itu. Menurut Fadhil harus ada revolusi media. Dan revolusi media tidak akan pernah terjadi di media arus utama yang lebih sibuk dengan popularitas, rating dan uang. Dan revolusi media itu, menurutnya ada di tangan jurnalis muslim dan media massa Islam. Karena menurutnya media dan jurnalis Muslim lah yang seharusnya menjadi pembela Islam dan umat Islam yang bekerja penuh dedikasi dan keikhlasan meski dihadapkan pada banyak keterbatasan. (kiblat.net)
Read more

Kamis, 11 Juli 2013

NII dan Transformasi dalam Tandzim Jihadi


Membaca “Inside Jihad” karya Omar Nasiri, intel Prancis yang menusup ke sel Al-Qaeda di kamp Afghan, saya banyak hal yang menarik dari buku ini. Antara lain adalah cerita bagaimana ia menyusup dan mengikuti pelatihan militer. Meski agak memalukan karena yang memberi info adalah seorang mujrim, tapi deskripsi-deskripsi yang ia tulis sangat menarik.

Secara positif, saya jadi tahu lebih gamblang ihwal laboratorium besar bernama Afghan; bahwa nun jauh di sana sekelompok umat bekerja dengan sangat serius, lengkap dengan segala fasilitas persenjataan modern. Himpunan muslim dari berbagai latar belakang suku dan bahasa, tengah melebur diri menjadi satu suku; suku tuntas dan suku mujahid. Ada magma di sana.

Otak kiri saya berbicara dan otak kanan berkelana; fenomena apa ini? Adakah mereka adalah eksistensi dari janji Rasul tentang thaifah manshurah? Merekakah kelompok inti umat ini? Adakah mereka jenis “cagar alam” yang tak bisa dipunahkan, paling tidak ideologinya? Apa rahasia besar Allah dibalik fenomena ini? Adakah mereka entitas yang selalu memenangkan peperangan?

Membaca tulisan Omar Nasiri ini bak menonton urutan serial pertunjukan ‘maha dahsyat’, saya mendapat release terbaru Al-Qaeda media Ramadhan 1428 H. Aiman Adz-Dzawahiri dengan ditemani buku-buku dan sepucuk Kalasinkhov tengah berorasi. Permunculannya kali ini seolah tengah mengejek Bush bahwa ia sangat santai menghadapi tekanan Amerika. Back-drop syutingnya memberi pesan kuat yang lazim disebut dalam buku-buku siyayasah syar’iyyah bahwa agama ini harus ditopang dua hal: Kitab dan Pedang.

Aiman Adz-Dzawahiri tengah menyampaikan progress report perlawanan globalnya di seluruh dunia. Dimulai antara lain dengan tayangan sebuah tekad koalisi antara dua kekuatan besar: Thaliban dan Al-Qaeda. Thaliban berposisi sebagai anshar sementara Al-Qaeda sebagai muhajir. Al-Qaeda menegaskan tekadnya untuk sami’na wa-atha’na kepada Amirul Mukminin: Mullah Umar, sementara Thaliban yang diwakili Mullah Dadullah bertekad menjadikan Afghan sebagai parit perlindungan pagi mujahidin seluruh dunia. Sebuah kekuatan yang tidak bisa dianggap enteng. Selanjutnya Aiman menyampaikan permunculan gerakan perlawanan global di berbagai penjuru dunia. Dimulai dari Irak; Somalia, Maghribi, Palestina dan lain-lain.

Ya.. bak sebuah urutan serial, kini bukan sekadar deskripsi normatif seorang Omar Nasiri di era 90-an, tapi sudah dalam bentuk aktualisasi. Release ini menegaskan fenomana ‘istikhdamul-quwwah’ yang lebih terprogram dan terorganisir. Jika selama ini saya hanya menduga mereka terpimpin secara ideologis, tapi kali ini saya harus mengakui mereka mulai terpimpin secara siyasi. Nampaknya, tren ke depan kelompok ini akan mengisi lakon utama sebagai kelompok perlawanan terhadap adikuasa di dunia ini.

Tiba-tiba ingatan saya kembali ke belakang, pada ruang dan waktu saya berada. Di bumi saya Indonesia, pernah tercatat sebuah  perlawanan anak bangsa dengan jalan pedang terhadap pemerintahnya yang dinilai sekuler. Kelompok itu menamakan diri Negara Islam Indonesia atau NII. Pasca ditangkapnya sang Imam; Kartosuwiryo, gerakan ini menjelma menjadi gerakan klandestin. Sayang, dalam perjalanan gerakannya, qiyadah yang sudah menjadi tua, kurang bisa mengikuti transformasi. Mereka sering terjebak pada kebanggaan nostalgia sejarah. Tidak ada basis pemikiran yang dibangun secara kuat dan permanen, kecuali hanya dogma global bernama jihad. Kultur  yang dibangun pun tidak nyambung dengan ruang di mana mereka berada hingga memaksakan ruang negara ke ruang gerakan. Budaya mencuri  pun merajalela atas dalih fa’i.

Kelompok muda gelisah. NII dinilai sudah tidak menjawab tuntutan zaman. Ada yang kemudian bermetamorfosa menjadi gerakan tarbiyah, dan ada pula yang memilih pergi ke Afghanistan untuk berjihad. Dalam sebuah kesempatan, saya pernah mewawancarai Abu Rusydan, sosok yang didakwa sebagai petinggi Jamaah Islamiyah. “Apakah Abdullah Sungkar memberangkat muridnya ke Afghan melalui jalur NII?” Ia menjawab: “Tidak, justru NII nunut ke beliau.” “Apa latar belakang AS kemudian memisahkan diri dari NII?” tanya saya: “NII dinilai sudah tidak mampu menjawab persoalan jihad aktual masa itu.”

Transformasi begitu penting, karena sebuah ideologi diajarkan bukan untuk mengisi ruang kosong. Kita bisa berkaca pada perjalanan Rasulullah. Dalam buku sirah, selalu disebutkan era pra kenabian dan pasca kenabian. Hal yang menegaskan bahwa Rasulullah itu menjawab sesuatu; Ada masalah sosial yang disolusi. Dalam konteks tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan; mari kita amati “fenomena perlawanan global” ini. Untuk selanjutnya mencoba menyinkronkan “takwin quwwah” -sebagaimana grand umumnya gerakan di Indonesia- dengan “istikhdam quwwah”. Tentu ini bukan hal gampang karena terkait bagaimana menyinkronkan idealisme dengan istitho’ah.

“Perlawanan global” ini tidak lahir serta-merta. Usamah bin Ladin telah lama merintisnya. Ia juga bukan jenis perlawanan sporadis, tapi didesain memiliki daya kenyal yang lama. Ini menarik untuk dicermati. Qiyadah harakah di Indonesia harus memiliki waktu khusus untuk mencermati hal ini di tengah kesibukan pentadbiran. “Perlawan global”  ini dibangun oleh ideologi, maka tidak cukup bagi qiyadah dari hanya sekadar mendengar dan membaca buku propaganda mereka. Langkahnya sudah harus lebih maju untuk mengunyah 36 kali dengan segenap kritik hingga beroleh gambar besar dan gambar kecilnya. Informasi gerak-geriknya juga tidak cukup diakses dari media umum yang penuh distorsi, apalagi hanya kebetulan ada yang memberi tahu, tapi harus digali melalui sumber eksklusif yang akurat, juga dengan segenap analisa kritis.

Pendek kata, qiyadah harus melakukan ‘investasi’ pada ranah pengkajian ini untuk menajamkan mata dan telinga. Jika selama ini gerakan-gerakan di Indonesia tidak eman berinvestasi gedung tinggi sebagai sarana pendidikan, tidak ada salahnya berinvestasi besar pada pengkajian dan penelitian.

NII harus membayar dengan ditinggalkan oleh kader mudanya yang potensial akibat tidak mengikuti transformasi. Meski demikian, tentu ‘pengamatan’ di sini bukan sekadar mengikuti tren. Ada yang lebih mendasar dari itu semua. Apa itu? Gerakan yang dalam proses “takwin quwwah” tidak boleh tenggelam pada i’dad tanpa batas ukuran. Karena sesungguhnya, ditarik dari sisi mana pun “istikhdam quwwah” itu wajib; kadang wajib ain dan kadang wajib kifayah.

Tidak ada opsi yang lain. Alasan yang dibenarkan bagi harakah sekarang untuk bergeser dari istikhdam ke takwin adalah; ‘adamul isthitha’ah (tidak ada kemampuan). Maka, menjadi menarik mengamati sebuah gerakan yang tengah ‘istikhdam quwwah’ untuk beroleh pembanding.KIBLAT.NET
Read more

Selasa, 09 Juli 2013

Hartamu Akan Jadi Saksi Perjuangan

Ingatkah kita akan perjuangan-perjuangan para sahabat yang tak kenal lelah dan terus istiqamah di jalan dakwah. Mereka rela melakukan apa saja untuk kelancaran dakwah mereka. Harta, tenaga, pikiran, keluarga, bahkan nyawa sekali pun rela mereka korbankan demi Islam. Lantas apa yang telah kita sumbangakan untuk Islam?

Sudah berapa banyakkah harta yang telah kita infaqan dijalan dakwah. Di sisi lain, kadang kita merasa berat jika harta kita dikeluarkan untuk kemajuan dakwah Islam. Berbeda halnya dengan kebutuhan kita untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, rasanya sangat mudah sekali kita mengeluarkan uang kita untuk hal-hal itu.

Kalau saja kita disuruh memilih, apakah kita akan memilih untuk membeli pulsa yang notabene hal itu sangat lah tidak penting jika dibandingkan dengan mengeluarkan uang kita untuk membeli buku agama yang nantinya akan menjadi bekal kita untuk berdakwah. Tentu kita akan merasa rela untuk membelanjakan harta kita untuk hal-hal yang kurang bermanfaat.

Wahai saudaraku, ingatlah bahwa harta kita itu akan menjadi saksi bagi diri kita ketika kita nanti dihisab di yaumil hisab. Seseorang yang mempunyai harta yang banyak akan lebih sulit dihisab dibandingkan dengan orang yang mempunyai sedikit harta. Sebab harta yang kita miliki akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Darimana harta itu kita dapatkan, dengan cara seperti apa kita mendapatkannya, dan digunakan untuk apa harta yang kita miliki itu. kalaulah kita bisa mempertanggungjawabkan harta kita di hadapan Allah,maka selamtlah kita. Akan tetapi seandainya kita tidak bisa mempertanggungjawabkan harta kita, maka celaka lah kita. Naudzubillahi mindzalik.

Kalau kita merasakan kondisi yang seperti itu, mempunyai banyak harta, maka alangkah terpujinya kalau kita menginfaqan harta kita di jalan dakwah.

Harta yang kita miliki harusnya bisa menjadi saksi gerak juang kita dalam berdakwah. Jadilah seperti halnya Utsman bin Afan yang rela mengorbankan hartanya untuk biaya perang. Dengan seperti itu, tentunya harta yang kita miliki akan lebih sempurna dan lebih berkah.

Sekarang ini sangat diharapkan muncul tokoh-tokoh baru yang mempunyai sifat sedermawan Utsman bin Afan, yang rela mengorbankan hartanya di jalan Allah. Dan yakinilah bahwa dengan mengeluarkan harta kita untuk jalan dakwah tidak akan mengurangi harta kita sedikit pun, bahkan akan menambah harta kita itu.

Dan ingatlah saudaraku, bahwa kedudukan harta untuk penegakan kalimatulloh di muka bumi memiliki peran penting. Bahkan menginfakkan harta di antara bentuk jihad dan bukti kejujuran iman seseorang. Oleh karena itu dalam al-Qur’an banyak ayat yang menggandengkan pengorbanan harta dengan jiwa dalam berjihad menegakan kalimatulloh.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta, dan jiwanya di jalan Alloh. Mereka itulah orang-orang yang benar.”(QS.Al-Hujurot [49]: 15)

الَّذِينَ آَمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ.
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Alloh, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Alloh. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (QS. At-Taubah [9]: 20)

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Alloh. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah [9]: 41)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
“Wahai orang-orang beriman! Maukah kamu Aku tunjukan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya dan berjihad di jalan Alloh dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (QS.ash-Shof [61]: 10-11)

Beberapa ayat di atas adalah bukti bahwa harta memiliki peran dalam pembuktian iman dengan berjihad untuk menginfakkannya.

Wallahu ‘alamu bi ash-shawab

Read more

Thaifah Manshurah Generasi yang Dijanjikan


Generasi Thaifah Manshurah yang Dijanjikan kemunculannya di Akhir Zaman memiliki fitur dan sifat-sifatnya, serta pentingnya memperbanyak jumlah Tha `ifah Manshurah dibandingkan tha` ifah yang lain.

Telah wutawatir dalil-dalil shahih yang menunjukkan wujud keberadaan Tha `ifah Manshurah serta kelangsungan wujudnya sampai hari kiamat, bahwasanya ia adalah kelompok yang mendapat pertolongan yang senantiasa tampil membela kebenaran, tidak membahayakan (menggoyahkan tekad) mereka orang yang menelantarkan mereka atau menyelisihi mereka sampai kiamat tiba .. di antaranya adalah hadits yang datang dalam Shahih Muslim:

Dari Tsauban, dia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: 
لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين علي الحق لا يضرهم من خذلهم حتي يأتي أمر الله وهم علي كذالك 
"Akan senantiasa ada di antara ummatku sekelompok orang yang tampil membela kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan (tidak menolong) mereka sehingga datang ketetapan Allah , sedang mereka tetap dalam kondisi demikian. " 


Dan dari sahabat Mughirah bin Syu `bah, dia berkata:" Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: 
"Akan senantiasa ada di antara ummatku, sekelompok kaum yang tampil di tengah-tengah manusia, sehingga datang pada mereka ketetapan Allah, sedang mereka dalam keadaan menang. " 


Dan dari Jabir bin Samurah, dari Nabi Saw., bahwasanya beliau bersabda: 
"Agama ini senantiasa akan tegak, berperang membelanya sekelompok kaum muslimin sampai kiamat tiba" 
Dan dari Jabir bin `Abdullah, dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: 
"Akan senantiasa ada di antara ummatku sekelompok orang yang berperang membela kebenaran (8) sampai hari kiamat" 


Dan dari `Imran bin Hani`, dia berkata: Aku mendengar Mu `awiyah mengajarkan pada mimbar: Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda: 
"Akan senantiasa ada di antara ummatku sekelompok orang yang menegakkan perintah / agama Allah, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka atau orang yang menyelisihi mereka, sehingga datang ketetapan Allah, sedang mereka mengalahkan manusia."  


Dari `Imran bin Hushain, dia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: 
"Akan senantiasa ada di antara ummatku sekelompok orang yang berperang membela kebenaran, mengalahkan orang yang memusuhi mereka, sehingga orang terakhir di antara mereka memerangi Almaseh Dajjal."  


Dan dari Salamah bin Nufail Al Kindi, dia berkata: "Ketika aku sedang duduk di dekat Rasulullah Saw., tiba-tiba ada seorang pria bertanya:" Wahai Rasulullah, orang-orang sudah tidak lagi mengurus kuda mereka dan meletakkan senjata mereka, dan mereka mengatakan: "Tak ada lagi jihad, perang telah usai! "Rasulullah Saw. menghadapkan wajahnya dan berkata:" Mereka bohong. Sekarang telah datang masa perang, dan akan senantiasa ada di antara ummatku sekelompok orang yang berperang membela kebenaran, dan Allah memalingkan hati banyak kaum pada mereka dan memberi rezki mereka dari (harta musuh) mereka sampai kiamat tiba, sehingga janji Allah datang. Kuda itu tertambat pada ubun-ubun mereka kebaikan sampai hari kiamat. "  


Dan dari Mu `awiyah bin Qurrah dari ayahnya: Rasululah Saw. bersabda:
"Akan senantiasa ada di antara ummatku sekelompok orang yang diberi pertolongan, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka sampai kiamat tiba. "  


Dan dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda:
"Akan senantiasa ada di antara ummatku sekelompok orang yang konsisten membela agama Allah, tidak membahayakan mereka orang yang memusuhinya."  


Dan dari `Amru bin Syu` aib, dari ayahnya, dia berkata: Suatu ketika Mu `awiyah berdiri di atas mimbar menyampaikan khotbah, lalu dia berkata:" Di mana gerangan ulama-ulama kalian? Di mana gerangan ulama-ulama kalian? "Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. Bersabda:
"Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali ada sekelompok di antara ummatku yang memerangi manusia. Mereka tidak memperdulikan orang yang menelantarkan mereka ataupun orang yang menolong mereka. "  


Dan dari Abu `Inabah Al Khaulani, dan dia adalah sahabat yang pernah shalat menghadap dua kiblat bersama Rasulullah, dia berkata: aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:
"Allah senantiasa akan menumbuhkan satu tanaman (generasi) dalam agama ini yang Dia pekerjakan mereka untuk menta `ati-Nya."  


Serta banyak lagi hadits-hadits dan nash-nash lain yang menunjukkan eksistensi Tha `ifah Manshurah ini, bahwasanya mereka senantiasa tampil membela kebenaran .. dan bahwasanya mereka diberi minum, tidak menggoyahkan tekad mereka orang yang memusuhi mereka ataupun orang yang menelantarkan mereka .. sampai hari kiamat tiba. 


Keberadaan Tha `ifah ini, tidak diragukan lagi, memiliki dampak pengaruh yang positip dalam jiwa orang-orang mu` min yang tertindas di muka bumi; membangkitkan harapan dan keyakinan di dalam jiwa mereka akan pertolongan Allah Ta `ala dan janji-Nya, dan bahwa akhir kesudahan yang baik adalah untuk orang-orang mu` min yang benar keimanannya - meskipun di kemudian hari kelak - meskipun kebatilan bersimaharajalela, menjadi besar tentara dan kekuasaannya.


Di dalamnya juga ada kabar buruk bagi semua thaghut-thaghut di muka bumi yang memancangkan bendera permusuhan dan peperangan terhadap Islam dan kaum muslimin .. bahwa tipu daya mereka dan perang mereka tidak berguna sama sekali untuk mereka .. bahwa ia akan balik tentang mereka sendiri .. dan bahwasanya mereka, meski telah berusaha semaksimal mungkin, maka kemenangan tetap untuk kalimat Allah saja .. meskipun setelah beberapa waktu nanti.

Ribuan penguasa tiran dan lalim - di sepanjang perjalanan waktu - telah memancangkan perang dan permusuhan terhadap Islam dan kaum muslimin .. mereka memindahkan ratusan ribu tentara untuk memeranginya .. namun di mana gerangan mereka .. di mana gerangan harta mereka yang melimpah ruah, yang mereka kerahkan untuk memalingkan manusia dari jalan Allah .. dan di mana agama Allah .. jika mereka bisa melihat?!!


Mereka semua telah pergi dan binasa menjadi kayu bakar neraka jahannam, dan jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali .. sedangkan agama Allah Ta `ala terus tumbuh berkembang, tinggi, luas dan tersebar ke seluruh penjuru negeri dan ke segenap anak bangsa .. meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya!!


Bukankah itu menunjukkan bahwa ada tangan maha kuat yang telah menjamin kelangsungan, penjagaan dan pertolongan untuk agama ini .. ?! 
Ya benar, jika mereka mengetahui! 


Allah Ta `ala berfirman: 
"Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai . " (Qs At Taubah 32)


Allah Ta `ala berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang kafir, menafkahkan (menggunakan) harta mereka untuk menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian akan menjadi penyesalan bagi mereka, kemudian mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam nerakalah orang-orang kafir itu dikumpulkan. " (Qs Al Anfaal 36). 

Wallahu a'lam
Read more