Tampilkan postingan dengan label Konspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 November 2013

Syiah Antara Gerakan Politik dan Aliran Agama

Di makalah ini, penulis tidak akan membicarakan tentang Aqidah Syiah secara rinci dan mendetail, karena selain membutuhkan tulisan panjang, yang dirasa tidak efektif  dan kurang efesien dalam forum Seminar yang memberikan waktu yang sangat terbatas, begitu juga pembahasan tentang Syiah sudah ditulis oleh para uilama-ulama dahulu di dalam buku-buku mereka, serta bisa didapati juga pada buku-buku kontemporer dalam berbagai bahasa, disamping itu bisa diakses dari internet.
Penulis hanya menyampaikan pandangan secara umum terkaitan dengan bahaya Aqidah Syiah dalam tataran politik dan keyakinan kaum muslimin secara bersamaan. Kenapa bisa dikatakan seperti itu ?
Kalau kita mau meneliti, akan kita dapatkan bahwa pembicaraan tentang Syiah sudah dilakukan oleh para ulama terdahulu di dalam buku-buku mereka yang menyatakan bahwa  Syiah pada awalnya adalah kelompok-kelompok menyimpang ( firqah ) dalam Islam, seperti halnya Khowarij, Mu’tazilah, Qadariyah, Jabariyah dan lain-lainnya.
Yang menarik, bahwa pembicaraan tentang Syi’ah mulai muncul lagi pada masa sekarang, khususnya sejak munculnya Revolusi Iran yang dipimpin oleh Khomeni pada tahun 1979 H, yang pada awalnya disebut-sebut sebagai Revolusi Islam Iran, tetapi ternyata adalah Revolusi Syiah Iran. Banyak dari kalangan Ahlus Sunnah yang terpedaya dengan  slogan yang diusung oleh Revolusi ini dengan menyebutkan   :
لا شرقية لا غربية إسلامية إسلامية
لا شيعية لا سنية إسلامية إسلامية
Mereka dari kalangan Ahlus Sunnah banyak yang menggantungkan harapan dari Revolusi ini. Tetapi beriring dengan pergantian hari, ternyata terungkap sedikit demi sedikit maksud dan tujuan utama revolusi ini, yaitu menguasai dunia dengan menyebarkan ajaran Syiah Imamiyah.
Tashdir Tsaurah ( Pengiriman Revolusi)  dan Imam Mahdi
Di dalam ajaran Syiah Imamiyah disebutkan bahwa Imam Mahdi ( Imam Ke -12 ) akan muncul di akhir zaman dengan tugas sebagai berikut :
  1. Membawa Syariat  Baru, yaitu Syariat Nabi Daud dan Sulaiman as, sebagaimana yang disebutkan oleh Al Kulaini dalam “Al Kafi”, [1]
  2. Membawa al Qur’an baru yaitu Mushaf Fatimah,
  3. Merobohkan Masjidil Haram  dan Masjid Nabawi,
  4. Membongkar kuburan Abu Bakar dan Umar bin Khottab, kemudian dibakarnya dan dihambur-hamburkan abunya[2]. Artinya mereka akan menyerang negara-negara Arab yang ada disekitarnya. Saat ini, mereka telah merebut Iraq dengan membonceng pasukan Amerika Serikat. Sesuatu yang pernah dilakukan oleh al Alqami dan Nashiruddin Ath Thusi yang memprovokasi Pasukan Tatar untuk membantai kaum muslimin yang ada di Baghdad, dan sejarah itupun terulang kembali [3].
  5. Membalas dendam bangsa Arab [4]
  6. Membunuh Nawashib ( Anti Syiah ) yang selama ini menentang aqidah mereka, kecuali  yang ikut mereka. [5]
Yang perlu diperhatikan disini, bahwa tugas-tugas Imam Mahdi di atas – menurut kesepakatan para pemikir Syiah kontemporer – khususnya yang berhubungan dengan perluasaan kekuasaan dan hak untuk membunuh lawan-lawan politik mereka, terutama Ahlus Sunnah telah diambil alih oleh Negara Iran yang didirikan dan  dipimpin oleh Khomeni.[6]
Hal ini diperkuat dengan adanya ad-Dustur al- Islami Negara Iran yang menyatakan bahwa tentara negara Iran bukan saja menjaga perbatasan negara, tetapi juga bertugas untuk berjihad di seluruh penjuru dunia. Dan disebutkan juga di dalam Dustur tersebut bahwa di saat belum munculnya Imam Mahdi, maka kekuasaan dan kepemimpinan Negara Iran dipegang oleh al Faqih [7], yang kemudian terkenal dengan konsep “ Wilayatul Faqih “ yang disusun oleh Khomeni sebelum terjadinya revolusi.
Disebutkan juga di dalam Dustur tersebut bahwa Revolusi Iran bertanggung jawab untuk membantu orang-orang tertindas menghadapi para penguasa di negaranya masing-masing, sehingga memudahkan untuk membangun sebuah umat internasional yang bersatu di bawah satu kepemimpinan, inilah yang disebut oleh banyak pengamat dengan istilah “ Tasdir Tsaurah “ ( Pengiriman Revolusi ) .
Tentunya, Al Khomeni dengan pernyataan-pernyataan tersebut[8] telah menyelisihi apa yang telah menjadi kesepakatan para ulama Syiah sepanjang sejarah bahwa yang mengaku Mahdi sebelum waktu keluarnya dinyatakan kafir. Akan tetapi karena Khomeni berhasil mendirikan sebuh negara dengan seluruh kekuatannya, maka keyakinan yang selama ini dipegang teguh oleh ulama-ulama pendahulu mereka menjadi luntur. Sehingga kita dapatkan ulama-ulama kontemporer Syiah mulai mendukung konsep Wilayatul Faqih Khomeni tersebut. Bagi mereka yang menyelisihinya akan dikucilkan, bahkan kalau perlu dibunuh. [9]
Yang menguatkan adanya hubungan erat antara gerakan politik syiah dengan aqidah mereka adalah para imam 12 yang mereka yakini setelah Ali, Hasan dan Husen semuanya adalah keturunan Husen. Pertanyaannya adalah kenapa harus keturunan Husen  ? Kenapa orang-orang Syiah cintanya kepada Husen jauh berlebihan jika dibandingkan dengan cinta mereka kepada Hasan ? Bahkan Hasan tidak disebut-sebut dalam buku-buku mereka kecuali sangat sedikit sekali ? Setelah ditelusuri ternyata istri dari Husen adalah seorang putri istana kerajaan Persia yang bernama Syahrubanu, yang merupakan putri raja Persia terakhir yang bernama Yazdajrid, disinilah terjadi pertemuan darah al Hasyimiyah dan darah as Sataniyah. [10]

Kekuasaan dan Imamah
Konsep Imamah adalah doktrin syiah yang paling mendasar. Sebuah doktrin yang sudah merupakan harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Mungkin saja, seorang syiah menutupi-nutupi ajaran lainnya dengan konsep “ Taqiyah “. Tetapi dalam masalah Imamah ini, seperti mereka tidak bisa bertaqiyah. Ulama kontemporer mereka Muhammad Husen Ali Kasyif al Ghitoi mengarang buku “ Ashlu Syiah wa Usuluha “ dalam rangka untuk ( At-Taqrib ) mendekatkan antara Syiah dan Sunnah, maka buku ini dikirim ke seluruh dunia dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Di dalam buku tersebut Muhammad Husen Ali Kasyif al Ghitoi menjelaskan dengan gamblang bahwa masalah Imamah adalah masalah yang paling mendasar dalam Syiah Imamiyah dan merupakan titik perbedaan yang paling penting antara Syiah dengan Sunnah.[11]
Di dalam konsep Imamah ini didapatkan poin-poin sebagai berikut :
  1. Imamah merupakan jabatan Ilahi, maka yang memilih para imam-imam mereka adalah Allah swt secara langsung melalui nash.[12]
  2. Wilayah ( Kepimpinan ) merupakan rukun Islam yang kelima. [13]
  3. Para Imam yang berjumlah 12 orang mempunyai kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat yang paling dekat dengan Allah, maupun oleh nabi yang diutus. [14]
  4. Para imam mereka lebih utama dari ulul azmi dari kalangan nabi.[15]
  5. Yang mengingkari salah satu Imam sama dengan mengingkari kenabian, artinya telah kafir dan sesat serta masuk dalam neraka selama-lamanya[16]. Dengan alasan seperti ini mereka mengkafirkan seluruh sahabat kecuali tiga orang yaitu Miqdad, Salman dan Abu Dzar, bahkan mereka mengkafirkan seluruh kaum muslimin non syiah, serta menghalalkan darah mereka.
  6. Imam mereka mengetahui kapan mereka mati, dan mereka tidak akan mati kecuali dengan mereka. [17]
  7. Para Imam adalah maksum ( terjaga) dari berbuat salah dan dosa, baik yang kecil maupun yang besar, baik sengaja maupun tidak sengaja. Mereka juga terjaga dari kelengahan, kekeliruan dan lupa.[18]
Doktrin Imamah ini sebagaimana telah disebut di atas, merupakan doktrin yang paling penting. Doktrin inilah yang mewarnai hampir seluruh ajaran Syiah secara umum, seperti Tahrif al Qur’an, Pengkafiran para sahabat dan umat Islam non Syiah, penghalalan darah mereka, dan lain-lainnya.
Hal itu sangat dimaklumi, karena di dalam konsep Imamah inilah kekuasaan akan bisa diraih, semua pengikutnya diwajibkan untuk mentaati imam-imam mereka yang maksum dan tidak pernah berbuat salah, apalagi mereka diangkat langsung oleh Allah swt dengan melalui nash dan wasiat dari Rasulullah saw. Tentunya, dengan diterapkannya konsep Imamah ini dalam tataran politik, akan membentuk kekuatan yang luar biasa, karena akan didukung oleh para pengikutnya yang sangat fanatik dan rela mengorbankan apa saja demi tercapai tujuan-tujuan yang telah diletakkan oleh para Imam mereka. Revolusi Iran merupakan contoh nyata dari penerapan konsep Imamah tersebut.
Tahrif al Qur’an.[19]
Doktrin tentang Tahrif al Qur’an dimunculkan syiah untuk mendukung konsep Imamah, oleh karenanya, kita dapati hampir seluruh ayat-ayat Al Qur’an ditakwilkan untuk mendukung  kekhilafahan Ali bin Abu Thalib ra, seperti dalam QS Al Maidah : 55 dan 67. Bahkan untuk tujuan tersebut, mereka tidak segan-segannya untuk menambah ayat –ayat di dalam Al Qur’an. Sehingga muncullah doktrin-doktrin di bawah ini :
  1. Al Qur’an yang sebenarnya terdiri dari 17.000 ayat. [20]
  2. Yang bisa mengumpulkan dan menghafal al Qur’an persis seperti apa yang diturunkan oleh Allah hanyalah para imam. [21]
  3. Mereka mempunyai Mushaf Fatimah, yang tebalnya tiga kali lipat dari al Quran yang dipegang kaum muslimin sekarang, dan tidak ada satu hurufpun yang ada dengan al Qur’an sekarang.[22]
Tentunya, masih banyak doktrin-doktrin Syiah yang bertentangan dengan aqidah umat Islam, bahkan doktrin-doktrin tersebut bisa mengganggu keamanan masyarakat, karena berujung pada revolusi berdarah untuk merebut kekuasaan. Oleh karenanya, umat Islam harus selalu waspada dengan gerakan-gerakan seperti ini, agar peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau seperti pembantaian umat Islam secara masal yang terjadi  di Baghdad pada masa Khilafah Abbasiyah, kemudian terulang kembali di saat jatuhnya Saddam Husen, begitu  juga sabotase berdarah yang terjadi di Mekkah al Mukarramah yang diikuti dengan pencurian Hajar Aswad, konflik berdarah yang tidak kunjung selesai yang terjadi di Pakistan, Yaman, dan Bahrain serta peristiwa –peristiwa lainnya, agar semua itu bisa dihindari khususnya di negara Indonesia yang mayoritas umat Islamnya bermadzhab Ahlus Sunah.
Yang terakhir, kami mengajak umat Islam, khususnya para ulama dan cendikiawan untuk banyak membaca buku-buku literatur aliran Syiah ini, dan mengikuti perkembangan politik yang ada di Timur Tengah, supaya kita benar-benar mengetahui hakekat gerakan aliran ini, sehingga tidak mudah terkecoh dengan slogan-slogan kosong yang sering diusung, padahal kenyataannya tidak demikian.
Mudah-mudahan Allah membimbing kita kepada jalan-Nya yang lurus, dan memberikan kepada kita kekuatan untuk selalu memegang kebenaran hingga akhir hayat kita, Amien.
Penulis: Dr. Ahmad Zain/sumber: http://www.ahmadzain.com

[1] Lihat Al Kulaini dalam Al Kafi : 1/397. Disini sangat kelihatan persamaan keyakinan Syiah dengan keyakinan Yahudi, yang hendak menghancurkan Masjid al- Aqsa dan membangun di atas  reruntuhannya kuil Nabi Daud dan Sulaiman, dan dari situ orang-orang Yahudi akan memimpin dunia ini. Hal ini semakin menyakinkan kajian yang menyatakan bahwa aliran Syiah ini pertama kali dimunculkan oleh  Abdullah bin Saba’ yang merupakan orang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam dengan tujuan merusak Islam dari dalam. Abdullah bin Saba’ ini bukanlah tokoh fiktif seperti yang diisukan oleh sebagian ulama syiah kontemporer seperti Murtadha al Askari dan Muhammad  Husen Ali Kasyif Ghitoi dalam bukunya:  Ashlu asy Syiah wa Ushuluha. Para ulama syiah terdahulu sendiri mengakui keberadaan Abdullah bin Saba’, seperti Sa’ad Al Qummi yang terkenal dengan ats Tsiqah di dalam bukunya al Maqalat wa al Firaq, An Nubakhty di dalam bukunya  Firaqu as Syi’ah, dan al Kusi di dalam Rijal al Kusi, dan ahli sejarah mereka al Ya’qubi  dalam bukunya Tarikh al Ya’qubi.
[2] Lihat At Thusi di dalam bukunya : “ Al Istibshor “ dan “ AtTahdzib “, Al Majlisi di dalam  Bihar al Anwar 52/ 386.
[3] Lihat umpamanya : DR. Imad Ali Abdus Sami’ di dalam bukunya “ Khiyanat asy Syi’ah wa Atsaruha fi Hazaim al Ummah al-Islamiyah.”
[4] Al Majlisi, Bihar Al Anwar : 52/ 338
[5] Al Majlisi, Bihar Al Anwar : 52 / 373
[6] Lihat Ali Al Kurani, al Mumahidun lil al Mahdi, hlm 126- 127, sebagaimana dinukil oleh Mundzir as Syarif dari Ulama Najef, dalam bukunya : Al Mukhaththath Al Ijrami Li Ibadati Umat Al Islam Tahta Musamma Khuruj Al Imam Al Mahdi, hlm :62
[7] Lihat Dustur al Islami Negara Iran, hlm : 18
[8] Lihat lebih lengkap dalam al Khomeni, al Hukumat al Islamiyah,hlm : 26, 48, 80, 113
[9] Mundzir as Syarif, Al Mukhaththath Al Ijrami, hlm : 61
[10] Utsman bin Muhammad al Khomis, Madza Ta’rif ‘an Dien as Syiah , hlm : 87
[11] Muhammad Husen Ali Kasyif Ghitoi, Ashlu asy Syiah wa Ushuluha, hlm : 133
[12] Muhammad Husen Ali Kasyif Ghitoi, Ashlu asy Syiah wa Ushuluha, hlm : 134
[13] Al Kulaini, Al Kafi : 2/ 18
[14] Al Khomeni, al Hukumat al Islamiyah, hlm : 52
[15] Abdul Husain Nikmatullah al Jazairi, al Anwar an Nukmaniyah : 1/ 20-21
[16] Al Majlisi, Bihar al Anwar :  27/ 62
[17] Al Kulaini, al Kafi : 1/258
[18] Al Majlisi, Bihar al Anwar : 25/ 191
[19] At Tabrisi, seorang ulama syiah telah menulis sebuah buku yang menyatakan adanya doktrin Tahrif al Qur’an dalam ajaran Syiah, buku tersebut diberi judul : “ Fashl al Khithab fi Itsbati Tahrif Kitabi Rabb al Al Arbab. “
[20] Al Kulaini, al Kafi : 2/ 634.
[21] Al Kulaini, al Kafi : 1/ 228.
[22] Al Kulaini,  al Kafi : 1/ 239.

Read more

Kamis, 11 Juli 2013

Apa itu Taqiyah Syiah dan Berapa Jumlah Penganut Syiah di Indonesia?

Apa itu Taqiyah Syiah dan Berapa Jumlah Penganut Syiah di Indonesia ? Taqiyah adalah kondisi luar seseorang dengan yang ada di dalam batinnya tidaklah sama. Memang taqiyah juga dikenal di kalangan Ahlussunnah. Hanya saja menurut Ahlussunnah taqiyah digunakan untuk menghindarkan diri dari musuh-musuh Islam alias orang kafir atau ketika perang maupun kondisi yang sangat membahayakan orang Islam.

Sementara itu menurut Syi’ah bahwa Taqiyah wajib dilakukan. Jadi taqiyah adalah salah satu prinsip agama mereka. Taqiyah dilakukan kepada orang selain Syi’ah, seperti ungkapan bahwa Quran Syi’ah adalah sama dengan Quran Ahlussunnah. Padahal ungkapan ini hanyalah kepura-puraan mereka. Mereka juga bertaqiyah dengan pura-pura mengakui pemerintahan Islam selain Syi’ah.

Padahal kakikatnya orang Syi’ah sangat membenci dan menganggap pemerintahan tersebut telah merampas. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh orang Syi’ah adalah melakukan kawin mut’ah (kawin kontrak), tidak melakukan shalat Jumat sebelum datangnya imam ke-12, suka berdebat membahas tentang wasiat Rasulullah , dan tidak mau menampakkan kesyi’ahannya dengan menyimpan semua akidahnya di dalam dada dengan cara taqiyah. Orang Syi’ah begitu bersemangat melontarkan slogan ‘La syarqiyah wala gharbiyah walakin islamiyah’diterjemahkan dengan ‘tidak Syi’ah tidak juga Suni tetapi Islam’, sesudah terpola dengan tidak mempermasalahkan Syi’ah , barulah mereka muati dakwahnya dengan akidah Syi’ah.

Saudaraku kaum Muslimin. Perlu diketahui bahwa di antara kota-kota yang dijadikan sebagai pusat penyebaran ajaran Syi’ah adalah Bandung, Pekalongan, dan Bangil. Silakan periksa lebih detil lagi keberadaan yayasan Syi’ah di seluruh Indonesia, bisa dicek lewat internet.

Tidak rahasia lagi bahwa pada waktu Khumaini berkuasa , banyak ulama Suni di Iran yang dibantai dan disiksa, masjid-masjid Muslim pun dihancurkan. Begitupun setelah Irak dikuasai oleh AS dan diberikan kelanjutannya kepada Syiah, banyak pula ulama Islam sunni yang mereka bunuh hingga sekarang. Perlu juga diingat bahwa antara Syi’ah dan Yahudi adalah bersaudara. Karena memang pencetus Syi’ah adalah Abdullah bin Saba yang Yahudi. Ia pura-pura masuk Islam, karena tidak senang melihat persatuan umat Islam dalam Ahlussunnah pada waktu itu.

Perhatikan sejarah terbunuhnya Utsman dan pembunuhan-pembunuhan berikutnya. Sejarah kontemporer juga menguatkan bukti sejarah lampau. Bukan sebuah rahasia jika masuknya Amerika ke Afghanistan tidak lain karena dibantu oleh kaum Syi’ah. Sebelumnya juga begitu, hancurnya Irak pun dengan peran serta kaum Syi’ah Irak dan Iran, hingga sekarang kekuasaan dipegang oleh orang Syi’ah yang menjadi boneka negara penjajah—tidak layak dilupakan kisah sepak terjang pengkhianatan Alqomah yang Syi’ah bekerja sama dengan Tartar meluluhlantakkan Baghdad pada zaman dahulu. Lihat pula Libanon.

Untuk memancing Amerika masuk, Syi’ah lewat tentaranya, ‘Hizbullah’ melakukan gerakan pura-pura melawan Amerika. Kemudian setelah Amerika lewat Israel melakukan serangan balik mereka lari hingga yang dibantai adalah penduduk yang Ahlussunnah. Akhir-akhir ini Yaman dan perbatasan Saudi Arabia juga digoncang oleh ulah Syi’ah. Orang Syi’ah pura-pura menyerang. Jika terjadi perang mereka berharap akan masuklah Yahudi/Amerika dengan alasan keamanan.

Begitupun apa yang telah terjadi di Suriah baru baru ini, mereka tidak ingin kekuatan islam sunni berkibar di Suriah, yang sebenarnya adalah daerah pertahanan Israel. Bila Suriah terkuasai oleh umat Islam, maka tak mustahil, Jordania pun terkuasai pula , yang pada akhirnya Israel akan getar getir dan terancam tersingkir dari bumi palestina yang mereka jajah. Taqiyah secara definisi Taqiyah adalah merahasiakan keyakinan dari para lawan yang bisa merugikan agama dan jiwanya.

Ali Muhammad al-Syalabi menerangkan, adapun Taqiyah dalam Syiah ada empat unsur pokok ajaran ; Pertama, Menampilkan hal yang berbeda dari apa yang ada dalam hatinya.  Kedua, taqiyah digunakan dalam berinteraksi dengan lawan-lawan Syiah. Ketiga, taqiyah berhubungan dengan perkara agama atau keyakinan yang dianut lawan-lawan. Keempat, digunakan di saat berada dalam kondisi mencemaskan (Ali Muhammad al-Syalabi, Fikr al-Khawarij wa al-Syiah fi Mizan Ahlissunnah wal Jama’ah, hal. 311).

Posisi ajaran taqiyah dalam Syiah sangat esensial. Seperti kata al-Kulaini, penulis al-Kafi:
 لا دين لمن لا تقية له 
“Tidak beragama orang yang tidak menggunakan konsep taqiyah.” (al-Kulaini, Ushul al-Kafi, jilid II, hal. 217). 
Karena itu, Ibnu Babawaih, tokoh besar Syiah klasik, berfatwa bahwa hukum menerapkan taqiyah itu wajib, seperti kewajiban menjalankan shalat. Ia mengatakan; “Keyakinan kita tentang hukum taqiyah adalah wajib, barang siapa yang meninggalkan taqiyah sama halnya dengan meninggalkan shalat.” (Ibnu Babawaihi, al-I’tiqadat, hal. 114).

Dalam keyakinan Syiah, taqiyah merupakan pilar-pilar utama agama. Taqiyah diserupakan dengan Sembilan persepuluh dari agama mereka. Sementara rukun-rukun Islam dan kewajiban dalam Islam lainnya hanya sepadan dengan satu persepuluh. Ini artinya, taqiyah lebih utama daripada rukun Islam. (lihat al-Kafi, juz II hal. 217, Badzlul Majhud juz II hal. 637).

Jumlah penganut Syiah di Indonesia Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rakhmat, pernah mengatakan kisaran jumlah penganut Syiah di Indonesia , “Perkiraan tertinggi, 5 juta orang. Tapi, menurut saya, sekitar 2,5 jiwa,” kata Kang Jalal, sapaan Jalaluddin Rakhmat. Pemeluk Syiah, kata Kang Jalal melanjutkan, sebagian besar ada di Bandung, Makassar, dan Jakarta. Selain itu, ada juga kelompok Syiah di Tegal, Jepara, Pekalongan, dan Semarang; Garut; Bondowoso, Pasuruan, dan Madura.

Di Sampang, jumlah penganut Syiah tergolong kecil. Cuma 700 orang. “Karena Sampang kantong kecil, maka orang-orang berani menyerang mereka,” Jalal berujar. Meski jumlahnya tergolong banyak, hanya segelintir orang yang terbuka soal identitas Syiah.

Dalam kesehariannya, mereka cenderung menutup diri. Mereka mempraktekkan taqiyah atau menyembunyikan identitas asli. Tujuannya, kata Kang Jalal, untuk menjaga persatuan. Tak sedikit ustad Syiah yang memberikan ceramah di masjid Sunni. Bahkan mereka beribadah seperti orang Islam pada umumnya. “Yang tahu orang itu Syiah, ya hanya orang Syiah sendiri. Lebih baik kami bersembunyi ketimbang berkonflik,” ujarnya. (bbrp sumber/Atturots/Tempo/eramuslim)
Read more

Politik Belah Bambu ala Syiah

Gegap gempita media, baik media massa baik cetak, online maupun TV memberitakan kepedulian Iran terhadap muslim Rohingya beberapa waktu yang lalu. Mayoritas media sekuler memuji langkah Iran. Bahkan turut memberitakan bahwa Iran-lah satu-satunya negara yang terjun secara resmi memberikan bantuan bagi Umat Islam Rohingya.

Tidak lupa, Hizbullah yang dikenal sebagai anjing penjilat Iran pun numpang popularitas. Milisi Syi’ah yang berpusat di Lebanon ini, bahkan, menjajikan bahwa ia akan memberikan bantuan maksimal kepada umat Islam Rohingya. Milisi yang biasa diplesetkan oleh para aktifis Islam dengan sebutan hizbulláta ini konon telah memberikan bantuan kepada umat Islam Rohingya.
Memang, sudah seharusnya umat Islam memberikan dukungan dan kepedulian terhadap muslimin Rohingya, mengingat derita yang mereka alami dan diskriminasi radikal Budha diluar batas kemanusiaan. Apalagi kelemahan dan ketidakberdayaan mereka untuk melawan kedzaliman ini, membuat jiwa muslim terasa perih melihat derita mereka.

“Mereka hanya memiliki dua pilihan, kabur dari negeri dzalim tersebut atau mati terdzalimi.” Ujar Angga dalam salah satu wawancara dengan penulis suatu ketika. Angga adalah salah satu relawan Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) yang pernah dua kali mengantarkan bantuan muslimin Indonesia ke pengungsi Rohingya di Thailand dan Malaysia.

Politik Belah Bambu ala Syiah

Ada banyak hal yang mengganjal bagi pemerhati politik Syi’ah, Iran, derita Rohingya, dan kesengsaraan muslimin di Suriah. Kejanggalan ini juga saya rasakan. Sebagai wartawan sekaligus relawan yang pernah terjun membantu umat Islam di Suriah, sangat susah bersimpati kepada Iran apalagi kepada Hizbullah atas ‘kedermawanan’ mereka membantu umat Islam Rohingya.

Bagaimana tidak mengganjal, lihat saja apa yang terjadi di kamp pengungsi Palestina Sabra dan Shatila pada Mei 1985, kamp Yarmuk, atau yang paling baru adalah peristiwa kekejaman Basyar Asad di Suriah. Siapa yang berada di balik terpenggalnya kepada umat Islam di Suriah? Siapa juga yang turut serta membantu rezim Basyar menghancurkan masjid-masjid di Suriah? Siapa dalang pemerkosaan wanita-wanita muslimah di Suriah
Bagi pengamat politik Syi’ah dan timur tengah, pasti tidak akan ragu mengatakan bahwa dalang dari itu semua adalah Iran dan Hizbullah khususnya serta Syi’ah pada umumnya.

Dalam salah satu wawancara saya dengan pimpinan mujahidin dari Liwa’ Ahbabullah di Suriah, beliau mengatakan, “Sebenarnya yang kami perangi di Suriah adalah tentara Iran dan Hizbullah, tentara resmi Basyar hampir bisa dikatakan telah kalah. Yang kami tangkap banyak dari tentara Iran dan Hizbullah, demikian juga mejadi sponsor utama pembunuhan rakyat sipil dan penghancuran masjid-masjid di sini adalah mereka (Iran dan Hizbullah). Mereka kami kenal lewat idcard, bendera maupun tanda-tanda lainnya yang melekat di badan mereka.”

Tentang kekejaman Hizbullah terhadap muslimin Suriah maupun pengungsi Palestina di kamp-kamp pengungsi, bukan rahasia lagi di kalangan rakyat Suriah. Jika kita tanya kejahatan Hizbullah, muslimin Suriah terutama kalangan terpelajar dengan fasih bercerita tentang kejahatan-kejahatan Hizbullah. Mereka telah sepakat bahwa Hizbullah dan Iran adalah musuh umat Islam.

Jika ingin tahu diskriminasi Rezim Syi’ah Iran terhadap umat Islam (sunni/ahlu sunnah), lihatlah derita umat Islam ahlu sunnah wal jama’ah di Iran. Umat Islam di Iran ditempatkan di daerah-daerah pinggiran yang tandus, sehingga mereka mengalami kekurangan pangan, gizi dan kesehatannya sangat buruk. Sehingga, lama-kelamaan mereka menjadi lemah, jangan berpikir melawan kedzaliman Iran, memikirkan sesuap nasi dan kehangatan badan di musim dingin saja, telah membebani diri mereka.

Selain itu, sistem perpolitikan di Iran seluruhnya dibawah kendali Syi’ah Rafidhah. Muslimin ahlu sunnah tidak pernah diberikan tempat dalam percaturan politik. Padahal, jumlah umat Islam sunni di Iran, sekitar 20% dari sekitar 70 juta penduduk Iran. Selebihnya umat Syi’ah, Baha’i, Zoroaster, Yahudi dan Kristen.
Pembangunan masjid umat Islam pun dibatasi. Di Iran izin mendirikan masjid diperketat, berbeda dengan Sinagong yang tiap tahunnya bertambah.

Fakta-fakta di atas menguatkan indikasi bahwa politik yang sedang dimainkan Syi’ah dalam menarik simpati umat Islam adalah politik belah bambu. Umat Islam di Suriah, maupun yang ada di Iran diinjak dan dibantai, agar tidak menghalangi pendirian Imperium Persia Raya yang telah lama diimpikan oleh umat Syi’ah.
Sedangkan umat Islam Rohingya, seperti bambu lain yang diangkat. Isu bantuan kemanusiaan di Rohingya dimanfaatkan oleh Syi’ah untuk menutupi kesesatanya, meraih simpati umat Islam yang tidak paham politik Syi’ah, sekaligus agar umat Islam melupakan kekejaman Syi’ah, khususnya Iran dan Hizbullah, di Iran maupun di Lebanon. Inilah politik pengalihan isu dan pencitraan Syi’ah.

Oleh karenanya, umat Syi’ah di Indonesia, sering kali menyerukan bahwa konflik Suriah adalah perang saudara, konflik politik internal antara rakyat yang memberontak kepada penguasa. Bahkan tidak malu-malu menyampaikan, Suriah adalah permainan Amerika yang hendak menjatuhkan Iran.

Di Solo misalnya, sekelompok massa dari ormas yang terkenal pembelaannya terhadap Syi’ah, benar-benar memanfaatkan tragedi kemanusiaan di Rohingya. “Di Suriah hanya perang saudara antara sunni dan Syi’ah. Dan medialah yang membesar-besarkan isu ini.” Kata salah satu orator demo peduli Rohingya dari massa ini, pada Jum’at 3 Mei 2013 di Bundaran Solo.

Jika ini perang saudara, permasalahannya, saudara dalam hal apa? Jika Syi’ah, khususnya Sti’ah Nushairiyah, dianggap saudara muslim, pertanyaanya, masihkah menganggap muslim orang yang menghancurkan masjid-masjid, meyembah api, bulan, menuhankan manusia, mengganti syahadat láiláhaillalláh dengan láilahaillalbasyar, tidak percaya akan kiamat, menghalalkan khamer, tidak mengakui al-Qur’an, menolak hadits, menghalalkan hubungan biologis sesama mahram dan menodai kehormatan muslimah?.

Sesesat-sesatnya Ahmadiyah, ia tidak pernah melakukan kekufuran ini. Kekufuran Syi’ah lebih sempurna daripada kekufuran Ahmadiyah. Hanya saja Syi’ah lebih unggul dalam memainkan isu, memanfaatkan peluang, menutupi kesesatan dan lebih hero di mata umat yang awam.*(An-najah)
Read more

Selasa, 09 Juli 2013

Ustadz Abu Rusydan: Syiah Punya Tiga Strategi Dalam Meraih Tujuan

Syiah itu punya 3 strategi Pertama, mengirim orang-orang ke Libanon Selatan. Kedua, menggunakan media, untuk menutupi niat buruk mereka. Ketiga, pemilihan daerah strategis. Pernyataan ini disampaikan Ustadz Abu Rusydan dalam wawancara dengan Eman Mulyatman dan dilansir diMafaza-Online.com selesai acara Tabligh Akbar Air mata Suriah di Masjid Annur Ruhul Islam Magelang, Ahad 16/6/2013.
“Kalau di Timteng mereka pilih Libanon Selatan atau Bahrain,” jelasnya.
Bagaimana dengan di Indonesia, masih kata Abu Rusydan,  Syiah memilih daerah strategis dalam arti luas adalah lembaga-lembaga termasuk partai politik, lalu mereka memiliki basis massa. Mungkin Sampang (Madura) jadi uji coba. “Selain itu ada juga dengan program beasiswa,” ungkapnya.
Abu Rusydan menambahkan,  ada juga upaya menjadikan Syiah sebagai bagian dari umat Islam Indonesia. Mereka sering berdalih alasan sejarah? Menurutnya,  itu omong kosong. Sejarah Indonesia terdistorsi, “Itulah karena kepandaian memainkan media,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Tokoh Islam dari Kudus Jawa Tengah ini menegaskan bahwa tipudaya Syiah akan berbalik kepada mereka sendiri. Namun umat Islam harus tetap waspada, sambil terus mempererat tali silaturahim, umat harus bersatu.
Berikut petikannya:  
Tentang adanya perburuan terhadap relawan Suriah, apa tanggapan Anda?
Kalau berbicara tentang negara-negara di sekitar Suriah, memang ada kebijakan dari negara-negara di sekitar itu untuk menangkapi relawan.
Bagaimana dengan Indonesia?
Sampai hari ini tidak dan mudah-mudahan tidak akan menangkapi (relawan Suriah).
Bagaimana antisipasinya?
Komunikasi dengan kaum muslimin, dengan lembaga-lembaga Islam yang masih bersih. Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Muhamaadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) masih bisa diajak rembugan. Artinya, persoalan Suriah ini adalah persoalan umat. Itu prinsipnya.
Bukankah ini akan menjadi pintu masuk bagi Densus 88?
Tidak semudah itu. Jadi pikiran untuk memerangi terorisme saja sudah mendapatkan perlawanan dari DPR.
Tapi kan selalu ada provokator?
Persoalan pengiriman relawan ke Suriah itu harus menjadi persoalan umat Islam, jadi didukung oleh seluruh komponen umat Islam. Itu akan menjadi pertimbangan politik siapapun. Densus 88 itu konsentrasinya bukan ke situ. Kalau Densus tetap ke sana (ikut menangkapi relawan) maka itu akan menjadi bumerang. Akan mendapat resistensi yang kuat dari kaum muslimin.
Dalam komunikasi orang Syiah sangat pandai, memanfaatkan hal ini, menggunakan aparat untuk menghadapi Suni?
Kewajiban kita menjelaskan kepada umat mengenai perkara apa yang terjadi di Suriah, kalau ada hal-hal yang menyimpang —dengan akidah— yang dilakukan oleh orang Syiah di sana, ya kita harus terangkan. Kemudian kita berserah diri kepada Allah. Jadi aqidah taqiyah Syiah telah memberikan legitimasi, kepada orang-orang Syiah untuk melakukan rencana jahat kepada Ahlussunah khususnya. Dengan adanya peristiwa seperti ini maka publik dengan sendirinya akan tahu, ternyata benar, Syiah itu memusuhi Suni.  Kalau terjadi konflik terbuka, justru keuntungan disitu. Kalau Konfliknya Terbuka Justru akan membuka Kedok Syiah, karena selama ini Syiah itu menikam Suni secara sembunyi.
Kalau menikam dengan menggunakan tenaga aparat?
Akibatnya tetap akan sama, artinya rencana Syiah baik terbuka maupun tertutup, itu akan sama berbalik. Yang kami harapkan, ada kesadaran bersama di kalangan umat Islam, sebab mayoritas Islam adalah Suni. Harus ada penyampaian, selama ini ada kejahatan yang dilakukan oleh Syiah secara rahasia. Itu jadi terungkap.
Sekarang Syiah lebih berani, benarkah?
Ya, dalam pemahaman mereka ada akidah ‘Syahid’ juga.
Tentang aksi mereka di Tangerang Banten hingga terjadi pembatalan pengajian yang membahas Syiah?
Justru ketika ada konflik, maka Suni yang mayoritas semakin sadar. Semua jadi terbuka, karena semua tahu (apa sebenarnya Syiah). Seperti yang terjadi di Afghanistan—terungkap dari ucapan Syaikh Usama bin Ladin —ketika Amerika memusuhi kaum muslimin secara diam-diam banyak kaum muslimin yang tidak sadar. Tapi ketika Amerika mengirim tentara ke negeri-negeri Islam, oh ternyata betul. (kiblat.net)

Read more